Perjalanan Merasakan Empati Melalui Coffee Shop 3


Beberapa hari lalu saya pergi ke Jogja. Salah satu hal yang membuat saya ingin mengunjungi Jogja adalah untuk mengunjungi salah satu Coffee shop yang menjadi daya tarik saya sejak lama yaitu Klinik Kopi. Pada mulanya Klinik Kopi men-follow saya di instagram, mungkin itu salah satu strategi marketing dengan calon customernya. Karena saya melihat sesuatu yang “berbeda” pada coffee shop ini, maka saya memutuskan untuk men-follow back dan mengobservasinya secara digital

Benar saja, ternyata coffee shop ini memiliki daya tarik sendiri. Apabila coffee shop kebanyakan hanya menjual productnya sendiri yaitu kopi dan interior coffee shop yang instagramable, klinik kopi menyajikan hal yang lebih dari itu. Klinik kopi menyajikan edukasi kopi dan empati melalui postingan perjalanan mereka dalam mencari biji kopi.

Coffeee Bar

Coffee Bar Klinik Kopi

Karena daya tarik yang dimiliki coffee shop ini membuat Riri Riza dan Mira Lesmana selaku sutradara dan produser film AADC 2 memasukkan coffee shop ini ke dalam film yang mereka rilis. Nama klinik kopi pun makin melejit. Banyak wisatawan lokal maupun mancan negara yang mengunjungi klinik kopi. Tak puas dengan observasi digital saya di sosial media, rasa penasaran saya pun membuat saya mengunjungi klinik kopi.

Bermodalkan aplikasi Waze dan rasa antusias, saya mengunjungi Klinik Kopi yang berlokasi di Jalan Kaliurang km 7.5, Jogjakarta. Hujan deras disertai angin kencang menerpa saya yang menggunakan sepeda motor serta lokasi penginapan saya yang cukup jauh dengan Klinik kopi tidak menyurutkan antusiasme saya untuk mengunjungi klinik kopi.

Sesampainya saya disitu, saya cukup terpukau dengan sistem pembelian di klinik kopi dan nomor antrian yang di berikan.

Nomer Antrian

Nomer antrian Klinik Kopi

Pada nomor antrian tersebut, setiap orang mendapatkan kartu yang berisikan seputar informasi kopi dari suatu daerah yang berbeda. Saya sendiri mendapatkan informasi seputar Kopi Batak Tolu. Jadi sambil menunggu antrian, konsumen diharapkan dapat menambah wawasan kopi terkait dengan daerah yang didapatnya.

Selain itu, sistem pembelian kopi di klinik kopi juga cenderung unik. Konsumen masuk satu persatu ke dalam, lalu mas pepeng selaku pemilik dan barista menjelaskan kopi yang dipilih konsumen sambil menyeduhkannya.

Mas pepeng, klinik kopi

mas pepeng sedang melayani customer

Pilihan biji kopi

Pilihan biji kopi yang tersedia pada hari tersebut

Tidak sampai disana, klinik kopi juga membawa saya pada perjalanan mereka untuk mendapatkan biji kopi dengan kualitas terbaik. Selain mengedukasi konsumen, klinik kopi juga mengedukasi petani agar dapat lebih menghargai kopi, dan menghasilkan kualitas kopi yang baik. Hal tersebut dapat terlihat dari video dokumentasi yang mereka putar kepada konsumen dan kumpulan dokumentasi yang ada di dalam coffee shop.

Perpaduan kopi dan kisahnya

Perpaduan kopi dan kisah perjalanan biji kopi

Photo pencarian biji kopi

Dokumentasi pencarian biji kopi

Klinik kopi sangat terbuka dengan informasi seputar pengolahan kopi, dari teknik meroasting, tips dan trick saat brewing, dan informasi lainnya. Sehingga sesi bertanya seputar kopi jangan dilewatkan, karena banyak sekali ilmu yang bisa didapat diklinik kopi. Selain itu apabila beruntung kita akan bertemu dengan para coffee enthusiast yang dapat sharing tentang dunia perkopian. Informasi tentang klinik kopi secara digital dapat dilihat melalui instagram @klinikkopi

Sepulang dari Klinik Kopi rasanya sangat kurang apabila tidak membawa biji kopi dari klinik kopi yang masih baru di roasting itu. Maka sesuai dengan saran mas Pepeng saya membeli biji kopi Red Bourbon yang berasal dari Flores dan di proses dengan metode semiwashed dan di roasting dengan light roast. Pada kemasan biji kopi tersebut terdapat foto petani yang memanen kopi yang konsumen beli. Hal tersebut menjadi suatu apresiasi atas jasa petani yang telah menghasilkan kopi yang berkualitas baik hingga konsumen dapat menikmatinya. Selain itu konsumen juga mendapatkan kartu berisikan informasi terkait dengan kopi yang dibelinya.

Packaging and information card

Biji kopi & information card

Perjalanan saya menuju Klinik Kopi berbuah manis karena banyak sekali yang saya dapatkan dari tempat ini. Konsep coffee shop yang cukup unik ini sangat sayang untuk dilewatkan khususnya bagi para coffee enthusiast. Tempat ini tidak hanya mengajarkan kita terkait ilmu kopi tetapi juga bagaimana mengapresiasi jasa para petani kopi. This’s a recommended place to visit!!

KLINIK KOPI
Jl. Kaliurang KM. 7.8, Gang Bima, Sinduharjo, Ngaglik, Sinduharjo.
Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55581
0813-9278-4240

By: Isella Siregar


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 pemikiran di “Perjalanan Merasakan Empati Melalui Coffee Shop

  • Vicka N.

    Membicarakan kopi adalah pembicaraan yang tak pernah berhenti di soal rasa. Seharusnya kopi dan petaninya diperlakukan demikian. Kopi bukanlah melulu milik Starbucks. Karena Indonesia adalah surganya Kopi. Tulisan yang asyik dibaca dear writer ๐Ÿ™‚

  • Thomas

    Banyakin review yang kayak gini dong Admin, jadi ga cuma jalan2nya tapi kulinernya juga. Anyway reviewnya asyik. Kalo bisa kasih tau harga-harganya. Rencana awal bulan depan ke Magelang, dan pastinya, mampir ke Jogja sekalian mau kesini juga ๐Ÿ˜€