Jalan-Jalan Ke Lombok (Lagi), Sebuah Itenary 2


saya bersama teman-teman di kantor jalan-jalan ke Pulau Lombok, ceritanya rapat kerja sekaligus rekreasi. Tahun 2013 saya sudah pernah ke Lombok, dalam rangka konferensi nasional. Nah, kali ini dalam rangka acara fakultas di kampus saya. Saya akan menceritakan jalan-jalan ini dalam bentuk itenary 3D2N (3 hari 2 malam), jadi kalau anda nanti punya rencana liburan ke Pulau Lombok, maka itenary ini dapat dijadikan referensi.

Hari ke-1: Bandung-Lombok

Dari Bandung ada penerbangan langsung satu kali sehari ke Lombok yang dilayani oleh maskapai Citilink. Pesawat berangkat jam 10.45 WIB dari Bandara Husein Bandung, dan tiba di Bandara Internasional Lombok (BIL) di Praya, Lombok Tengah, pukul 12.30 WITA. Waktu tempuh dari Bandung ke Lombok adalah 1 jam 35 menit. Oh ya,selain Citilink, alternatif lainnya naik maskapai Lion Air atau Garuda Indonesia tapi transit dulu di Surabaya atau Denpasar. Ongkos pesawat Citilink dari Bandung ke Lombok normalnya 900 ribu rupiah.

Tiba di bandara BIL di Praya, kami dijemput oleh tour guide. Setelah makan siang di restoran, kami menuju desa Sukarara di Lombok Tengah. Di desa ini kita mengunjungi toko yang menjual kain songket dan tenunan Lombok. Tenunannya bagus-bagus lho, harganya juga tidak murah, berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, maklum tenunan tangan.

Kita juga dapat menyaksikan di luar toko perempuan-perempuan dari suku Sasak sedang menenun songket. Mereka adalah pegawai yang dipekerjakan oleh pemilik toko untuk menenun dengan alat tradisionil. Para perempuan Sasak itu bekerja dari pukul 8 pagi hingga pukul 17 sore, duduk dengan posisi kaki menjulur ke depan sembari menenun sehelai demi sehelai benang. Dalam satu hari mereka mampu menenun kain sepanjang 15 cm.

Para perempuan penenun songket itu adalah tulang punggung keluarganya. Suami mereka pada musim kemarau ini (saat kami ke sana masih musim kering) sedang menganggur tidak bekerja, karena sawah-sawah sedang dilanda kekeringan, tidak bisa diolah. Sawah-sawah itu milik orang lain, suami mereka hanya buruh penggarap saja.

Di Lombok Tengah tidak ada irigasi karena posisi sungai lebih rendah dari sawah. Semua sawah di sana tergolong sawah tadah hujan, sawah hanya panen sekali atau dua kali setahun. Perempuan Sasak yang menjadi penenun songket itu hanya mendapat upah Rp600 ribu per bulan plus makan dua kali sehari. Mereka bekerja setiap hari, dari Senin sampai Minggu, kemudian Senin sampai Minggu lagi, duduk dari jam 8 pagi sampai pukul 5 sore seperti pada gambar di atas. Begitu seterusnya. Mata saya memerah mendengar gaji yang tidak seberapa itu. Sedih. Inilah nasib bangsaku yang hidup dalam kemiskinan. Makanya tidak heran jika banyak perempuan Lombok mengadu nasib dengan menjadi TKI di luar negeri, teutama ke Malaysia.

Dari Desa Sukarara, rombongan kami bertolak ke desa wisata yang bernama Desa Sade, masih di Kabupaten Lombok Tengah. Desa Sade adalah model perkampungan suku Sasak yang ditujukan untuk pariwisata. Di perkampungan ini terdapat rumah adat Sasak dengan atapnya dari daun-daun padi kering, sedangkan lantainya dari campuran kotoran kerbau dan tanah.

Setelah melihat-lihat perkampungan suku Sasak, kami meneruskan perjalanan ke Pantai Kuta di selatan pulau Lombok untuk mengejar sunset. Nama pantainya sama dengan Pantai Kuta di Bali, bedanya lebih sepi. Beberapa turis asing terlihat sedang berjemur.

Puas berfoto-foto di Pantai Kuta, kami melanjutkan perjalanan menuju hotel di Pantai Senggigi, Lombok Barat. Wah, ternyata kami sudah mengunjungi dua kabupaten di Pulau Lombok, yaitu Kabupaten Lombok Tengah dan sekarang Lombok Barat. Kami check-in di Hotel Holiday Resort yang terletak persis di pinggir pantai Senggigi. OK deh, selamat malam dulu ya, kami mau beristirahat dulu setelah lelah berjalan-jalan pada hari pertama.

Hari Kedua: Pulau Gili Terawangan

Pariwisata di Pulau Lombok kebanyakan wisata pantai saja. Tujuan utama wisatawan ke sini adalah Pantai Senggigi, lalu rute selanjutnya adalah ke Gili Terawangan. Belum lengkap ke Senggigi jika tidak terus ke Gili Terawangan.

Jam 9 pagi bis sudah menjemput rombongan dari hotel untuk menuju pulau Gili Terawangan di Lombok Utara. Gili artinya pulau, sedangkan terawangan artinya terowongan. Sepanjang perjalanan dari Senggigi menuju pelabuhan penyeberangan, kita disuguhi pemandangan yang sangat indah. Sebelah kiri jurang dengan lautan luas yang dalam (Selat Lombok) di bawahnya, sedangkan di sebelah kanan bukit-bukit batu. Dari atas jurang kita dapat menyaksikan garis pantai yang indah menawan, salah satunya bernama Pantai Malimbu. Subhanallah, sungguh indah ciptaan Tuhan.

Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit, sampailah kita di pelabuhan penyeberangan menuju Gili Terawangan. Untuk menuju ke Gili Terawangan, kita bisa naik perahu shuttle yang berangkat tiap satu jam sekali. Ongkosnya Rp45.000, namun shuttle hanya berangkat jika jumlah penumpang sudah mencapai 20 orang. Jika belum mencapai 20 orang, kita harus menunggu dulu. Jika tidak mau menunggu, kita bisa menyewa perahu yang mengantar kita pergi dan pulang. Ongkosnya sekitar Rp 1,5 juta. Oh iya, jika naik perahu shuttle, jadwal shuttle kembali dari Gili Terawangan ke Lombok terakhir pukul 16.00.

Perjalanan menuju Gili Terawangan sekitar 40 menit. Air lautnya sangat jernih. Selain Gili Terawangan, masih terdapat dua pulau lagi di sekitarnya yaitu Gili Meno dan Gili Air.

Apa yang menarik turis pergi ke Gili Terawangan? Pertama pasir pantainya yang putih, kedua di sekitarnya terdapat taman laut yang indah. Wisatawan bisa melakukan snorkeling ke taman laut itu. Jika tidak mau menyelam, wisatawan bisa melihat pemandangan taman laut dengan menaiki perahu yang dasarnya berupa kaca, ongkosnya Rp75.000 per orang. Sayangnya ukuran kacanya hanya satu meter dengan lebar 50 cm, kurang puas rasanya melihat taman laut yang indah itu. Kekhasan taman laut di Gili Terawangan adalah terdapat kerang berwarna biru yang katanya pada malam hari terlihat bercahaya.

Pulau Gili Terawangan adalah pulau kecil dengan pasir putih. Udara di sini sangat panas. Tidak ada sumber air tawar di sini. Air di pulau rasanya payau. Kebutuhan air tawar dan bahan makanan didatangkan dari daratan Pulau Lombok. Tentu saja harga makanan di pulau ini dua kali lipat mahalnya.

Banyak turis asing berseliweran di Gili Terawangan dengan memakai pakaian ala kadarnya (bikini). Berada di Gili Terawangan serasa berada di Pantai Kuta Bali. Di sepanjang pantai berjejer puluhan penginapan dan hotel dari harga murah hingga mahal, lalu pemandangan bule-bule berjemur di pantai. Mayoritas pengunjung Gili Terawangan adalah bule. Waktu terbaik ke Gili Terawangan adalah dari bulan Juli hingga November, saat itu belum musim hujan.

Di Gili Terawangan juga terdapat tempat konservasi penyu (Turtle Conservation). Di sini kita bisa melihat tukik (bayi penyu) ditangkar di dalam sebuah akuarium besar.

Jangan khawatir mencari mushala di Gili Terawangan. Di sini terdapat sebuah masjid besar. Cuma kalau berwudhu airnya payau.

Setelah puas di Gili Terawangan, saatnya kembali ke Pulau Lombok. Pukul dua siang kami kembali naik perahu ke Pulau Lombok. Agenda berikutnya adalah wisata belanja mutiara di Senggigi.

Lombok terkenal sebagai tempat penghasil mutiara air tawar dan mutiara air laut. FYI, di manapun kita berhenti di rumah makan, tempat wisata, pantai, dan-lain, kita akan ditawari mutiara oleh padagang asongan. Harus hati-hati memilih mutiara, karena belum tentu semuanya asli. Tidak semua mutiara di Lombok berasal dari Lombok, ada juga mutiara (entah asli entah palsu) yang berasal dari Tiongkok. Mutiara harganya bermacam-macam bergantung kualitasnya, mulai dari harga puluhan ribu hingga ratusan ribu.

Kami berbelanja mutiara di sebuah toko yang khusus menjual mutiara. Bermacam-macam perhiasan mutiara ada di sana, mulai dari cincin, gelang, kalung, bros, hingga tasbih dan rosario. Semua mutiara terlihat menarik hati dan begitu menggoda, terutama menggoda isi dompet. Para wanita terlihat begitu antusias dan bernafsu memborong mutiara-mutiara itu.

Hari sudah sore. Sekarang saatnya untuk mengejar sunset di Pantai Senggigi dari pinggir hotel tempat kami menginap. Kita dapat menyaksikan pergerakan matahari hingga terbenam di laut dari Pantai Senggigi. Pantai Senggigi pada sore hari sangat ramai, banyak orang duduk-duduk menunggu sunset.

Hari ketiga: Mataram – Bandung

Hari terakhir di Lombok. Setelah check-out dari hotel, maka saatnya berjalan-jalan melihat kota Mataram dan wisata belanja kaos atau batik di Cakranegara.

Kota Mataram lumayan besar. Di kota ini terdapat kawasan permukiman yang isinya mayoritas penduduk dari suku Bali yang beragama Hindu. Orang Bali ini didatangkan dari daerah Karangasem di Bali oleh Raja Karangasem pada zaman dulu. Meskipun mayoritas orang Lombok beragama Islam dan Pulau Lombok mendapat julukan pulau seribu masjid, tetapi sepuluh persen lainnya beragama Hindu.

Mayoritas orang Hindu berada di Mataram, tepatnya di kawasan Cakranegara. Jadi, tidak heran kita juga menemukan banyak pura di kota Mataram. Kawasan Cakranegara terkenal dengan pusat penjualan busana khas Lombok, seperti kaos, batik dan tenunan.

Sebenarnya masih banyak tempat yang perlu dikunjungi di Mataram, misalnya Taman Narmada, kawasan Jalan Nusa Cendana yang terkenal dengan sate khas Lombok yaitu sate bulayak, dan lain-lain, namun karena waktu yang terbatas, maka tujuan ke sana tidak sempat dilakukan. Tentang Taman Narmada dan sate bulayak

Setelah membeli oleh-oleh lain seperti makanan (dodol rumput laut, madu Sumbawa, sambal taliwang, dll), kami bersiap-siap kembali ke Bandara. Sebelum ke Bandara, kita bisa makan dulu menikmati ayam taliwang di sebuah restoran. Selanjutnya menuju bandara karena pesawat Citilink menuju Bandung berangkat pukul 13.30.
SUngguh perjalanan yang berkesan. Berharap suatu saat nanti saya akan kembali bersama keluarga.

By: Rinaldi Munir


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 pemikiran di “Jalan-Jalan Ke Lombok (Lagi), Sebuah Itenary