Tentang Mereka Yang Disebut Sebangsa dan Setanah Air 2


“Menemui kejadian apa selama di Korea?” tanya Umi, teman saya saat kuliah dulu. Ketika itu kami sedang jumpa kangen setelah setahun lebih saya tidak mengunjungi ibukota. Saya terdiam sejenak. Kemudian menyeruput pelan coklat dingin di hadapan saya.

Menghela napas. Menerawang pada beberapa peristiwa yang cukup membuat dada saya sesak dan sudut mata berair. Bukan pada peristiwa mengerikan yang menimpa saya saat perjalanan ke negara orang. Bukan juga pada rasa lapar ditengah dinginnya kota Seoul. Tapi… pada perlakukan saudara setanah air yang tak sengaja saya temui di sana.

Ah… Indonesia!

****

Saya mengunjungi Seoul seorang diri sebagai pelarian dari rasa jenuh pada pertanyaan yang menjemukan; Kapan nikah. Sialnya sehari sebelum keberangkatan saya ditabrak motor yang membuat tulang pungung saya terasa nyeri. Sebagai pelaku perjalanan yang mengandalkan ransel tentu hal ini yang sungguh menyiksa.

Tak ada persiapan matang. Mengandalkan tas ransel daily backpack saya hanya membawa tiga helai baju dan beberapa bungkus sambal serta abon – lupa membawa mie kemasan dan sereal sebagai amunisi di sana. Sementara itu, saya memiliki waktu seminggu untuk menikmati Korea Selatan.

Saya tidak terlalu melakukan riset seperti perjalanan saya ke Thailand. Tak ada Itinerary dan rencana yang pasti selain sekedar menikmati atmosfer kota demi melepaskan rasa lelah akan teror pertanyaan.

Ditengah kebingungan tersebut, saya mengukir senyum saat tak sengaja mendengar percakapan yang akrab di telinga saya ketika beberapa orang mengobrol dengan bahasa yang sangat saya kuasai. Saat itu, saya usai melaksanakan sholat di mesjid besar area Itaewon. Mesjid ini menjadi tempat wisata favorit bagi sebagian wisatawan asing.

Beberapa orang yang saya perkirakan berusia dua puluhan tahun itu pun menyibukan diri mengabadikan moment di depan mesjid lewat kamera mereka. Saya mengambil kesempatan untuk menyapa.

“Indonesia?”

Mereka mengangguk.

“Indonesianya dimana?”

“Jakarta.”

Saya pun mengangguk. Menanyakan destinasi mereka kemana. Salah satu dari mereka pun menjawab pertanyaan saya. “Oh, bisa bareng dong. Kebetulan saya juga ke sana.”

Ekspresi mereka tampak ragu. Mengangguk dengan berat. Sebagian dari mereka kembali sibuk dengan kamera ponsel dan tongsis. Sementara saya beranjak menanti mereka seraya juga sibuk mengabadikan momen.

Setengah jam kemudian. Tak ada dari mereka yang menghampiri saya dan berlalu begitu saja. Saya terdiam. Bukankah kita masih Indonesia?
Di hari lain…

Saya mendengar grasak-grusuk tak jelas saat sedang menjemur beberapa kain di hostel. Kembali saya mendengar percakapan yang sangat akrab di telinga saya. Rupanya beberapa gadis berusia dua puluhan baru saja melakukan check in. Saya menanyakan darimana mereka berasal; Indonesia.

Saya pun menawarkan diri untuk bergabung dengan mereka yang hendak ke Namsam Park. Rasanya seru kalau melakukan perjalanan sesama saudara setanah air di negeri orang. Sayangnya mereka mengacuhkan saya. Sibuk pada barang bawaan mereka. Satu diantara mereka masih keberatan di lempar ke kamar di lantai atas oleh petugas hostel – berpisah dari teman-temannya.

Saya pun menawarkan untuk tidur di kamar saya yang punya dua ranjang dan berada di lantai yang sama dengan teman-temannya. Sayangnya mereka menatap curiga pada saya dan mengacuhkan begitu saja.

Baiklah!

****

Saya tertawa pelan menceritakan hal itu pada Umi, antara miris dan entah bagaimana menyebut perasaan ini. Saya mengenal Indonesia dengan keramahan dan persaudaraan yang menyenangkan.

“Sejujurnya saat itu gue sempat menangis, Mi,” saya mengukir senyum mengenang puzzle-puzzle kejadian tersebut yang masih tergambar jelas di benak saya.

Tapi.. pengalaman itu tak membuat saya berkecil hati tentang Indonesia. Saya percaya keramahan dan kesetiaan dalam persaudaraan sebangsa dan setanah air masih melekat erat pada mereka yang menyayangi merah putih.

Sebab sebelum peristiwa tersebut, saat menyasarkan diri di Busan, saya banyak dibantu oleh warga negara Indonesia yang tinggal di sana. Memberi saya makanan khas Indonesia ditengah kegalauan saya pada kehalalan makanan. Membagi cerita menyenangkan mereka sebagai perantau di negeri orang. Dan, mentraktir saya streetfood kota tersebut sebagai bekal dalam perjalanan ke Seoul.

Indonesia tetaplah Indonesia. Di tengah kegelisahan akan karakter sebagian orang-orangnya yang membuat saya menghela napas akhir-akhir ini, saya percaya keramahan dan rasa persaudaraan itu masih ada.

by: Eka Hei


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 pemikiran di “Tentang Mereka Yang Disebut Sebangsa dan Setanah Air

  • agustinus

    Seger bahasanya, terlepas dari pengalamannya yang gak ngenakin. Well, anggaplah itu bumbu2 traveling, yang gak semuanya selalu seneng. Justru itu yang bakal bikin kita tambah open minded. Cheers! 😀

  • Ratih Kumalasari

    Ngerasain banget apa yang dirasain penulis, ikut sedih 🙁
    Pada dasarnya namanya manusia emang beda2 sih sifatnya bukan didasari atas nama nasionalis. Anyway suka sama ending ceritanya 🙂