[Travellous Mind] World Expo Jepang 1970 ke Milan 2015 10


Di tahun 60-70an Jepang sedang mengalami proses transisi mulai dari zaman paska perang menuju ke era yang lebih modern. Stereotype Jepang yang kurang baik di mata beberapa negara lain membuat Jepang harus mengubah kembali wajahnya menjadi negara yang dapat diterima dan menerima negara lain.

Olimpiade Tokyo 1964 dan World Expo 1970 yang digelar di Osaka. Adalah momentum paling penting dalam sejarah negara samurai untuk redefine image negaranya.

Yang paling berkesan dari kedua event tersebut adalah World Expo, ini adalah event besar dan prestisius. World Expo Osaka yang mengambil tema “Progress and Harmony for Mankind” saat itu mampu mendatangkan lebih dari 64 juta pengunjung, selama 6 bulan penuh penyelenggaraannya, dan tercatat sebagai pengunjung terbanyak dalam sejarah penyelenggaraan dan baru terpatahkan oleh Shanghai Expo empat dekade kemudian, bagaimana tidak di event tersebut Pavillion Amerika menampilkan batu yang berasal dari bulan, dan Jepang yang menampilkan masa depan transportasi melalui prototype mobil listrik.

Saat itu pulalah untuk pertama kalinya World Expo digelar di Asia. Dengan konsep membawa masa depan, maka tidak heran pavilllion yang ada semuanya memiliki konsep futuristik. Banyak yang sepakat, tidak ada yang bisa mengalahkan konsep World Expo 70s di Osaka.



Acara ini digagas Bureau International des Expositions (BIE), organisasi atar negara yang berbasis di Perancis, expo ini adalah kesempatan bagi negara-negara untuk memperkenalkan budaya mereka lewat instalasi seni. Boleh dibilang ini adalah event besar yang dinanti-nantikan penikmat seni di seluruh dunia.

Tulisan ini saya buka dengan World Expo di Osaka, Jepang, karena dari sanalah pertama kalinya saya mengetahui tentang adanya acara akbar tersebut, dari Komik yang berjudul 20th century boys, garapan Urasawa Naoki. Komik yang sangat popular di Jepang beberapa tahun yang lalu, dan banyak dipuji karena kedalaman dan kompleksitas ceritanya yang cerdas. Komik tersebut mengambil periode yang sama pada saat terjadinya World Expo, tentang representasi Jepang dalam menciptakan masa depan. Komiknya sendiri telah difilmkan secara Trilogi.

Dari komik tersebutlah saya dibuat penasaran dengan World Expo, dan mulai menggali informasi lebih. Untuk lebih jelas tentang world expo sebelumnya dan yang akan digelar, bisa kunjungi situs ini

Pada tahun 2015. Expo serupa berlangsung di Italia, tepatnya di kota Milan dan saya berkesempatan mengunjunginya.
Mengambil tema tentang energy dan pangan, feeding the planet, energy for life, World Expo Milano 2015 dihelat dari tanggal 1 mei hingga 31 oktober. Acara akbar ini juga tidak di sia-siakan oleh Indonesia untuk mempromosikan budayanya bersama 54 negara partisipan lainnya, untuk membuat pavilion (bangunan besar yang berisi instalasi seni)

Saya keluar dari bandara Milan, Malpensa Internasional Airport saat matahari pagi masih bersinar hangat, dengan menaiki bis khusus menuju kota Milan seharga 10 euro saya sudah berada di Milano centralle, tempat transpotasi yang terintegrasi di jantung kota Milan.

Saya mengambil hotel yang berjarak 2 menit berjalan kaki untuk menuju Katedral Duomo, landmark terkenal kota Milan. Dari hotel tersebut hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk naik menuju ke Expo Milan, dengan menaiki Trem tujuan Rho Fiera.

Adapun tiket expo milan dengan mudah bisa di dapat di kios-kios tiap trem stasiun atau pembelian langsung dilokasi expo dengan harga 39 euro.

Hari mulai beranjak siang saat saya memasuki gerbang utama, kesan yang saya dapatkan ketika saya memasuki expo akbar yang di gelar di area seluas 110 ha tersebut seperti halnya memasuki dunia bermain semacam Disneyland, Dufan ataupun Universal Studio. Beragam pavilion negara-negara tampak bersaing untuk memikat pengunjung yang datang dengan atraksi-atraksi di pavilion mereka.

Melalui media instalasi seni yang mereka kemas di dalam pavilion, pengunjung seolah dimanja dengan visualitas keindahan negara baik melalui instalasi seni maupun teknologi visual. Sebagai contoh ketika memasuki pavilion Jepang dengan antrean yang mengular, kita dibuat terkagum-kagum dengan keindahan visual yang ditampilkan lewat penceritaan mitologi mereka melalui media ruang khusus yang seluruhnya dipasangi TV LED dan permainan sinar-sinar laser serta iringan musikalitas petikan alat musik Shamisen sebagai pendukung pertunjukan.

Pavilion Jepang sukses menerbangkan imajinasi pengunjung seolah berada di desa-desa kecil di Jepang dengan menyuguhi instalasi bunga teratai dan bunga sakura. serta diakhiri dengan sushi virtual, pengunjung mendapatkan informasi mengenai jenis-jenis Sushi melalui teknologi visual yang interaktif.

Keluar dari Pavilion Jepang, jam sudah menunjukan lebih dari pukul 1 siang, berada di banyaknya pavilion negara-negara dunia akan membuat siapa saja yang berkunjung akan kebingungan memilih masakan negara mana yang disantap, karena di pavilion negara-negara juga menjual masakan khas mereka.

Setelah lebih dari satu bulan saya berada di Eropa, dengan keseharian memakan masakan khas negara-negara Eropa, perut ini rasanya sudah kengen sekali dijejali kuliner negeri.

Tidak heran kaki saya langsung melangkah ke pavilion Indonesia, pilihan saya jatuh ke rendang lantaran saya tidak menemukan masakan khas Banjar seperti Pakasam ataupun Iwak Karing.

Mengambil tema: Stage of the world, Pavilion Indonesia bangunannya memakai dominasi bahan rotan, mengadopsi bentuk penangkap ikan β€œBubu”. Dengan mengusung elemen dan ikon tradisional budaya negeri, which is good. Namun sayang isi Pavilion Indonesia dirasa kurang maksimal, terlebih dalam menampilkan elemen-elemen teknologi yang diterapkan dalam instalasi seninya.
Berikut bentuk Pavilion Indonesia dibandingkan Pavilion Negara lainnya (Pavilion Indonesia ditandai dengan outline kuning)

Hingga jika dibandingkan dengan pavilion dengan negara lain yang menerapkan elemen tersebut, pavilion anak negeri yang berukuran 1.175 meter persegi tersebut berkesan biasa, dan tidak tanggap teknologi dalam mencitrakan budayanya. Program unggulan pavilion Indonesia adalah World Ocean Day, Indonesia National Day, dan Indonesia Coffee Week. Program yang diharapkan dapat memikat pengunjung.

Setidaknya kehadiran Pavilion negara Indonesia, dalam upayanya memperkenalkan budaya negeri patut mendapatkan apresiasi. Namun agar menjadi catatan dalam penyelenggaraan berikutnya diharapkan pihak exhibitor bisa tanggap dalam perkembangan dunia instalasi seni yang makin maju dan berkembang jauh. Hendaknya obyek bukan hanya sebagai media untuk ditonton belaka namun penikmat juga mampu berpartisipatif di dalamnya. Ambient Media.


Senja jatuh terlambat saat musim panas, tidak semua Pavilion bisa saya masuki walau panitia telah menyiapkan free bus yang menghubungkan area satu dengan lainnya. Saya pulang ke hotel dengan menyempatkan diri berfoto di katedral Duomo yang tampak bersinar menjelang malam.

Saya lalu rebah dalam empuknya kasur hotel LA Madoninna, setelah kenyang terisi makan malam Pizza lezat khas negeri penggila bola.

Pengalaman ini saya bawa terbang kembali ke Negara tercinta, berpikir jika saja pemerintah kita mampu memaksimalkan sumber pariwisata yang tak kalah indah dan penuh budaya ini ke level yang lebih tinggi lagi. Seperti halnya yang dilakukan oleh pemerintah Jepang yang sukses mereformasi negaranya paska hancur leburnya negara mereka dihantam Perang.

Hingga suatu hari nanti entah anak atau cucu kita kelak, akan membusung dadanya bangga, sebagai masyarakat dari suatu negeri yang besar, dan memiliki kearifan lokal yang agung.


Source Pic: Pribadi & Google
By: Andrei Budiman


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 pemikiran di “[Travellous Mind] World Expo Jepang 1970 ke Milan 2015

  • Ratih Kumalasari

    Kereen ceritanya, saya seolah naik mesin waktu. Apalagi settingnya di Jepang. Juaranya sih Jepang kalo urusan teknologi! πŸ˜€
    Well, infonya menarik, saya jadi tau adanya World Expo πŸ™‚
    Sering sering bikin cerita gini Bang πŸ˜€

    • Andrei Budiman

      Thank apresiasinya, iya nanti kalo ada info asyik sesuai pengalaman akan diceritain lagi, kalo kmu punya cerita yang juga oke, jangan lupa share juga kesini ya πŸ˜€

  • Agus Syah

    Koleksi saya lengkap Bang sampai 21st Century Boy. Emang keren ceritanya.. dan setting yang di Osaka Expo emang dibuat gimmick, khususnya yang Tower of Sun, bagian atasnya di tempeli lambang “Sahabat” πŸ˜€

    • Andrei Budiman

      iya bener yang tower of Sun yang dibuat gimmick, Urasawa Naoki emang keren kalo buat cerita! Jangan lupa juga baca karya dia yang judulnya “Monster” πŸ™‚

  • Rico Airlangga

    Bener2 berasa naik mesin waktu Bang baca artikel ini.. Anyway saya langsung tergerak utk googling nyari komik gratisan 20th century boys lho, saking penasarannya. Hahahaha

  • Anindya sari

    Aku pernah datang yang di shanghai expo mas, menurutku itu udah spektakuler bgt. Dan bener pengunjungnya kayak pasar malem. Penuuuh. Hehehe
    Diliat dr foto2 nya.. Japan Expo emang outstanding jika di compare pada generasi itu..