Memintal Budaya di Tanah Melaka 2


Beberapa waktu lalu saya berkesempatan mengunjungi salah satu daftar UNESCO World’s Heritage site. Pagi itu, pesawat mendarat di KLIA2 menjelang pukul 10. Bandaranya besar dan modern, berbeda jauh dengan LCCT yang dulu menampung pesawat maskapai penerbangan bertarif rendah. Setelah melewati imigrasi, saya menuju konter operator GSM. Ada 2 kios operator bersebelahan yakni Digi dan Maxis, saya memilih kartu Hotlink dari Maxis seharga RM30. Total kuota internet yang didapat 2GB, plus tambahan 1GB dengan menginstall aplikasi hotlink, serta gratis menelepon 30 menit ke manapun (termasuk Indonesia).

Kemudian kami menuju terminal bis di lantai 1. Ada 2 pilihan bis dari KLIA2 ke Melaka (Malacca) yakni Transnasional dan StarMart dengan jadwal keberangkatan yang mirip. Saya membeli tiket bis StarMart untuk keberangkatan jam 10:30, seharga RM24.3. Sayang bisnya datang terlambat, jadi baru berangkat 1 jam kemudian. Perjalanan dari KLIA2 ke Melaka sekitar 2 jam.

Sesampainya di terminal bis Melaka Sentral, kami berjalan ke arah pintu utama, melewati deretan toko-toko dan resto. Persis seperti di KL Sentral. Ongkos taksi dari Melaka Sentral ke pusat wisata (Jonker, Dutch Square) adalah RM20 (tanpa argo), perjalanan sekitar 20 menit.

Sampai hotel dan checkin, jam menunjukkan pukul 2. Target pertama adalah makan siang dengan Chicken Rice Balls. Ada 2 warung yang terkenal yakni Chung Wah dan Hoe Kee. Berhubung Chung Wah antri, kami memilih Hoe Kee Chicken Rice Balls yang ternyata enakkk. Makanan segini banyak cukup untuk porsi 4-5 orang, habis sekitar RM57.25

Perut kenyang dan siap berjalan, kami menuju Jalan Tun Tan Cheng Lock dan berhenti di depan No.8 Heeren Street. Bangunan sederhana ini dibangun pada akhir tahun 1700-an, saat Melaka dijajah Belanda. Terdiri dari 2 lantai yang berfungsi sebagai ruko (shophouse), dengan arsitektur khas Peranakan yakni bagian tengah yang terbuka. Kami beruntung bertemu dengan Colin Goh sang manajer, dan menghabiskan hampir 1 jam ‘ngobrol’ dengan beliau.

Lanjut menyusuri Jalan Tun Tan Cheng Lock, kami masuk ke Baba & Nyonya Heritage Museum tepat sebelum guided tour terakhir dimulai, yakni jam 4 sore. Biayanya RM16/orang, sudah termasuk tur mengelilingi rumah. Pemandu kami Emily orangnya kocak dan membuat tur selama hampir 1 jam terasa menyenangkan. Seperti Baba House di Singapore, di dalam rumah tidak diperkenankan untuk foto-foto.

Di dekat situ juga ada Straits Chinese Jewellery Museum yang menarik. Sayang tutupnya jam 5 sore, jadi kami ngga sempat masuk. Melipir lagi ada Chee Ancestral Mansion (Rumah Abu Keluarga Chee) yang dibangun tahun 1925 dengan gaya arsitektur China, Portugis, Belanda, dan Inggris. Keluarga Chee adalah salah satu keluarga keturunan China tertua di Melaka, dan rumah abu ini adalah salah satu rumah abu termegah di Asia.

Beberapa bangunan menarik juga ada di Jalan Tun Tan Cheng Lock. Misalnya bangunan hotel Puri Melaka dan Eng Choon Association.

Setelah puas menyusuri Jalan Tun Tan Cheng Lock, kami belok kanan masuk Jalan Kubu, sampai bertemu dengan gapura Jonker Walk. Di sisi kiri ada Tamil Metodhist Curch, tapi kami jalan terus masuk ke Jalan Hang Jebat (Jonker Street), lalu mampir makan cendol di Bibik House. Melaka di siang hari memang panas, jadi makan es adalah itinerary yang sangat dinanti.

Kami lanjut menyusuri Jalan Hang Jebat sambil melihat-lihat aneka bangunan dan makanan yang dijual, hahaha. Di kiri jalan ada Hang Jebat Mausoleum (makam), salah satu sahabat Hang Tuah. Lanjut berjalan sampai ketemu pertigaan Jalan Hang Lekir, dan kami mampir ngaso di Geographer Cafe. Salah satu camilan khas Melaka adalah pineapple tarts, yang rasanya mirip kue nastar. Pineapple tarts terenak yang kami makan adanya di toko Christina Ee, di seberang Geographer Cafe.

Sudah jam 7 malam dan Melaka masih terang-benderang. Kami menuju hotel sambil menikmati cuaca yang mulai sejuk. Saat itu hari kamis, dan sebagian besar toko dan museum tutup jam 5. Pengunjung kota Melaka juga tidak ramai, jadi nyaman sekali berjalan-jalan sore di sepanjang Jonker Street.

Sekitar jam 8:30 malam, kami berjalan santai menuju Pak Putra Tandoori and Naan Restaurant. Kami memesan naan, chicken tandoori, rogan josh, dan minumnya lassi. Semua makanan yang datang flawless, daging ayam dan mutton-nya lembut, juicy, dan bumbunya meresap ke dalam. One of the best Indian food I’ve ever tasted. Makan puas dan (terlalu) kenyang bertiga habis RM65.5.

Dari sana, kami berjalan kaki menyusuri sungai Melaka untuk naik Melaka River Cruise. Mirip dengan Chao Phraya River Cruise, kita naik kapal kecil menyusuri sungai sampai ujung dan kembali lagi. Dengan durasi perjalanan sekitar 45 menit, bangunan-bangunan menarik di tepi sungai, dan audio guide tentang sejarah Melaka, biaya RM21.2/orang rasanya worth it.

Jam sudah menunjukkan pukul 11:15 malam ketika kami selesai mengikuti river cruise. Waktunya beristirahat di hotel, memulihkan tenaga untuk lanjut eksplorasi di keesokan hari

By: Adinda


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 pemikiran di “Memintal Budaya di Tanah Melaka

  • Omega Travel

    LIBUR SEKOLAH PAKET 3 NEGARA 6D MALAYSIA SINGAPORE THAILAND (HAT YAI) ONLY IDR 5.000.000
    BLM TIPS GUIDE IDR 180.000 / PAX

    TGL KEBERANGKATAN
    APRIL: 13 (IDR 5.000.000)
    MAY : 10 (IDR 5.000.000)
    MAY : 25 (IDR 5.800.000)
    JUNI : 18 (IDR 5.800.000)
    JUNI : 24 (IDR 7.200.000)
    JUNI : 26 (IDR 7.200.000)

    HARGA BELUM TIPS SAJA IDR 180.000/ORANG

    Hari 01: JAKARTA – KUALA LUMPUR – IPOH
    Hari 02: IPOH – HAT YAI AT YAI (THAILAND
    Hari 03: HAT YAI – KUALA LUMPUR
    Hari 04: KUALA LUMPUR – GENTING – JOHOR BAHRU
    Hari 05: JOHOR BAHRU – FULLDAY SINGAPORE TOUR – MALAKA
    Hari 06: MALAKA – KLIA – JAKARTA

    UNTUK DETAIL BISA PM SERTAKAN EMAIL

    UNTUK GRUP PERUSAHAAN BISA PM UNTUK PRIVATE

    OMEGA TRAVEL BUDGET
    HP/WA 0819-78-58-618
    LINE : @stc9196v
    Instagram : Omega_travel_budget
    BBM : D7D9AAF6

  • Sherano

    Melaka, tanah yg penuh dengan sejarah, tempat di mana belanda memulai merencanakan imperialisme di nusantara selama 3,5 abad.