Berkunjung ke Palembang 3


Minggu lalu saya diundang adik kelas di Informatika ITB yang menjadi dosen di Universitas Bina Darma Palembang untuk memberi seminar dihadapan mahasiwa. Kebetulan saya belum pernah ke Palembang, padahal sama-sama di Pulau Sumatera dengan kota Padang tempat kelahiran saya. Jadi, kunjungan ini merupakan pertama kali saya ke kota empek-empek itu.

Bagi saya Palembang punya nilai emosional dengan keluarga kami di Padang, karena ayah saya pernah merantau ke Palembang sebelum ketemu dengan ibu saya. Jadi, anggaplah ini kunjungan napak tilas mengenang perantauan orangtua saya.

Pesawat mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II di Palembang dengan mulus. Bandara SMB II adalah bandara yang megah dan baru. Bandara ini tidak jauh dari bandara lama yang merupakan milik TNI AU.

Palembang adalah kota besar nomor dua di Sumatera. Palembang menurut sejarahnya adalah kota tua, kota ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Sriwijaya. Bangunan-bangunan lama di Palembang bertebaran di sana-sini. Kota Palembang saat ini agak kusut dan macet karena pembangunan jalan layang monorel (Light Rapid Transport) yang membentang dari bandara hingga ke kompleks Jakabaring, melewati pusat kota. Menurut perkiraan proyek LRT ini akan selesai tahun 2017 guna menyongsong pesta Asian Games yang akan diadakan di Jakarta dan Palembang tahun 2018.

Lalu lintas Palembang yang selalu macet akibat pembangunan LRT ini Jalan Ahmad Yani, jalan nomor dua terbesar di Palembang. Rumah-rumah di Palembang beratap genteng, yang menandakan pengaruh Jawa terasa sekali di sini.

Berbicara Palembang maka kita tidak bisa memisahkannya dengan Sungai Musi. Sungai Musi adalah belahan jiwa kota Palembang. Tidak lengkap ke Palembang tanpa melewati Jembatan Ampera yang membentang di atas Sungai Musi. Di sekitar Jembatan Ampera ini sungai mulai menyempit karena rumah-rumah penduduk semakin menjorok ke tengah sungai.
Saya dan teman sempat menyusuri sungai Musi dengan speedboat dari dermaga di seberang Pasar 16 Ilir, dekat Jembatan Ampera. Kami menyewa speedboat mengitari sungai Musi dari Seberang Ulu hingga Seberang Ilir.

Naik speedboat menyusuri sungai Musi ke seberang ulu dan seberang ilir sungguh pengalaman mendebarkan bagi saya. Laju speedboat-nya sangat kencang dan beberapa kali seperti mau terbalik, tapi supirnya begitu lihai menghindar gelombang dan halang rintang yang dapat membalikkan perahu.

Sementara teman saya yang asli wong kito tenang-tenang saja, mungkin sudah biasa baginya naik speedboat kencang ini kali ya :-). Tinggal “orang gunung” seperti saya berpegangan erat sambil komat-kamit membaca doa.
Jika speedboat terbalik habislah saya, apalagi saya tidak bisa berenang. Speedboat juga tidak dilengkap dengan pelampung, agak miris juga mendengarkannya. Jadi, naik speedboat di Sungai Musi perlu nyali yang besar.
Pemandangan sepanjang sungai sungguh Indonesia banget, ada rumah-rumah panggung di sepanjang sungai, pasar 16 Ilir, kapal getek, rumah apung, kapal tongkang batubara, kios bensin eceran terapung, dll. Inilah rakyat kita kebanyakan, mereka hidup secara sederhana dan menggantungkan sepenuhnya hidupnya pada kebaikan Sungai Musi.

Ke Palembang tanpa mengunjungi Pulau Kemaro rasanya kurang lengkap. Pulau Kemaro adalah pulau delta yang terletak di tengah sungai Musi, tidak terlalu ketengah juga sih, agak dekat dengan sisi sebelah sungai. Pulau ini menajdi tempat tujuan wisata di kota Palembang.



Apa menariknya pulau ini? Di Pulau Kemaro terdapat sebuah vihara dan sebuah pagoda yang besar. Pada setiap peringatan Waisyak, Imlek, dan Cap Gomeh, pulau ini ramai dikunjungi umat Budha dan Tridharma. Di pulau ini ada cerita legenda putri raja Palembang yang menikah dengan seorang saudagar dari daratan Cina.

Bicara mengenai Kulinernya, Palembang tidak hanya ada empek-empek dan tekwan. Di kota ini ada makanan yang menjadi sarapan pagi warga Palembang. Namanya martabak Har. Martabak Har sejenis martabak dari Arab atau India, isinya telur, dan dimakan dengan kuah kari.

Di sebelah hotel tempat saya menginap di Jalan Sudirman, ada sebuah ruko yang menjual martabak Har. Saya penasaran dengan martabak ini yang kata orang Palembang enak banget. Agak heran juga saya dengan kebiasaan makan warga Palembang ini. Biasanya martabak itu kan makannya pada waktu sore atau malam, tapi martabak yang satu ini dimakan pada pagi hari. Kuah karinya itu lho, nggak nahan.

Wisata di Palembang memang prioritasnya hanya kuliner. Tidak banyak tempat wisata yang dapat dikunjungi di Palembang. Orang ke Palembang untuk berwisata kuliner. Kata teman di sana, untuk menikmati seluruh macam kuliner di Palembang dibutuhkan waktu dua hari saking banyak jenisnya.

Masakan Palembang kebanyakan adalah ikan. Beberapa masakan yang saya coba adalah ikan seluang (ikan kecil dari Sungai Musi), rusip (olahan fermentasi ikan), aneka pindang (ikan, daging, udang), brengkes (semacam pepes, kadang-kadang pakai sambal tempoyak atau durian), dan sate pentul. Pindang adalah masakan khas daerah Sumbagsel dengan lauk berupa ikan seperti ikan belida, ikan patin, udang, atau iga sapi.

Ada satu lagi kuliner Palembang yang wajib dicoba yaitu nasi minyak. Nasi minyak adalah semacam nasi kebuli rasa lokal, dimasak dengan minyak samin, dan bumbu seperti kunyit, garam, dana lain-lain. Pelengkapnya adalah daging kambing, sambal mangga, acar mangga, dan lain-lain. Sepintas mirip nasi kuning, tetapi rasanya beda. Lezat sekali.

Lamat-lamat suara kelompok musik Golden Wing yang menyanyikan lagu lawas Mutiara Palembang masih terngiang di telinga saya. Lagu ini menceritakan suasana romantis kota Palembang diwaktu malam.

Mutiara Palembang (Palembang Diwaktu Malam)
Oleh: Golden Wing
Palembang di waktu malam
Di kala terang bulan
Bersinar di atas sungai musi
Beriring nyanyi sang dewi
Terbayang semua harapan
Dalam keindahan itu
Mutiara yang telah hilang
Kembali padaku
Walaupun bukan yang dulu
Yang telah jauh dariku
Tapi dapat melepas rindu
Kesunyian hatiku
Mutiara yang telah hilang
Kembali padaku
Walaupun bukan yang dulu
Yang telah jauh dariku
Tapi dapat melepas rindu
Kesunyian hatiku

Kunjungan dua hari di Palembang membuat saya terkesan. Suatu hari saya ingin mengunjunginya lagi.

By: Rinaldi Munir


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 pemikiran di “Berkunjung ke Palembang

  • Arina Ekawati

    Martabak Har, sebenernya sudah bisa jadi ikon kota Palembang, dan entah kenapa kalo saya menemukan martabak Har di kota lain, katakanlah cabang Jogja, kok rasanya beda ya?
    Mungkin Martabak Har tidak hanya menjual martabaknya, namun juga esensi kota Palembang saat makan disana..

  • Dimas Maulana

    EMpek-empek lah yang bikin Palembang terkenal akan kulinernya, btw nanti jangan lupa ada Asian Games yang bakal bikin Palembang, jd sorotan Asia bahkan dunia. melihat infrastruktur dan persiapannya sudah pasti bakal keren maksimal!

  • Rara

    Kuliner di Palembang emang juara, paling favorit adalah Pindang, sama nasi minyak. Ngetik komen kayak gini jadi langsung ngiler. Huhuhu. Cusss ke Palembang!