KELANA SERIES: Once Upon a Time in Koba 10


Waktu berjalan dengan cepat. Hampir tak terasa, sudah setahun saya menjalani profesi sebagai seorang auditor. Bisa jadi karena setiap hari saya lalui dengan belajar hal-hal baru dan menarik sehingga saya tidak menyadari menit demi menit yang datang dan pergi. Dalam setahun tersebut, selain mengunjungi Makassar dan Sorong yang sudah saya ceritakan pada tulisan lalu, saya tidak banyak melakukan perjalanan ke tempat yang jauh, tetapi bukan berarti saya hanya kerja terus menerus. Dalam setiap penugasan, selalu ada hal-hal baru dan unik yang bisa dinikmati. Sebut saja misalnya penugasan ke pabrik mainan di mana saya bisa menyaksikan proses pengendalian mutu atau quality control atas mainan yang sudah selesai diproduksi. Bayangkan, pekerja-pekerja di divisi itu kerjanya setiap hari ya bermain dengan mainan (bayangin, kerja koq main).

Saya juga sempat melakukan penugasan ke rumah potong ayam dan diminta oleh senior saya untuk membuat dokumentasi proses pemotongan ayam, mulai dari ayam tiba di rumah potong sampai selesai dikemas dan siap dimasukkan ke ruang pendingin. Ternyata daging ayam yang stres lebih keras dan tidak enak. Supaya tidak stres (sebenarnya sih…mau dipotong ya pasti tetap stres), ayam-ayam dari peternakan yang tiba di rumah potong ditempatkan dulu di depan kipas besar supaya rileks dan tidak tegang pada saat akan dipotong.

Tugas itu juga termasuk menghitung berapa rata-rata ayam yang dipotong dalam satu menit. Bayangkan menghitung ayam-ayam yang sudah tidak berbulu yang digantung pada ban berjalan dan lewat silih berganti di depan mata. Saya juga beberapa kali menaiki tangki besar yang menyimpan bahan-bahan kimia untuk produksi. Selain pengalaman unik, sudah tentu saya sering mendapat pengalaman dimusuhin klien (karena saya datang untuk melakukan audit, bukan untuk menghibur!). Bahkan, waktu tidur di mess pegawai di daerah Merak saya sempat diganggu suara-suara aneh di tengah malam (iiih, seram… mungkin sang penghuni dunia lain pun turut memusuhi auditor).

Di kantor akuntan publik setiap tahun diadakan evaluasi atas kinerja setiap auditor oleh manajer yang menjadi memimpin timnya untuk kesempatan promosi dan penilaian untuk bonus. Manajer berinisial M yang memimpin tim saya adalah seorang wanita yang cerdas, mandiri, cantik dan belum menikah tapi lumayan ditakuti karena detil dan agak judes, sehingga setiap bawahan yang pekerjaannya direview oleh M selalu tegang. Dalam beberapa kesempatan, jantung saya pun selalu berdebar-debar jika direview oleh M, karena perasaan yang bercampur aduk antara duduk dekat dengan wanita cantik, dan tegang karena setiap kekurangan selalu dicecar habis-habisan.

Sering kali saya nekad beradu argumentasi dengan M demi membela diri jika merasa benar sehingga membuat proses review menjadi suatu proses yang melelahkan bagi kami berdua. Dalam evaluasi kinerja tahunan saya yang pertama, M memuji hasil kerja saya tetapi demi perkembangan karir saya, M membuat keputusan untuk memindahkan saya ke tim lain yang dipimpin oleh seorang manajer wanita dengan inisial J yang baru saja dipromosi. Hati saya sempat sedih karena merasa dibuang dari tim saya tetapi saya melihat keputusan tersebut ada benarnya karena J memiliki gaya manajemen yang berbeda. Selain itu, M yang sebenarnya sangat jeli dan perhatian melihat potensi saya lebih cocok untuk menangani klien multinasional yang memiliki budaya korporasi yang berbeda dengan budaya korporasi lokal.

Bukan tidak ada alasan saya menjelaskan panjang lebar mengenai pekerjaan dan evaluasi kinerja saya yang pertama, karena peristiwa ini merupakan bagian dari rentetan peristiwa yang kemudian membawa saya melihat tempat-tempat di dunia.

Setelah ditugaskan pada tim yang baru, saya pun harus menghadapi klien-klien baru yang belum pernah saya kunjungi. Dan klien pertama saya adalah sebuah perusahaan tambang yang berlokasi di Pulau Bangka, pulau tetangga dari mana saya berasal tetapi belum pernah saya kunjungi. Menurut semua senior saya yang pernah terlibat dalam penugasan audit perusahaan ini, klien ini adalah klien favorit sepanjang masa karena penugasan audit ke Pulau Bangka lebih mirip berwisata ke daerah pantai daripada sebuah penugasan audit normal dengan segudang isu dan lembur yang tidak berkesudahan.

Pada bulan September 1996, saya bersama dua rekan senior dan manajer J berangkat ke Pulau Bangka. Pemandangan dari pesawat mengingatkan saya pada kampung halaman. Pulau yang dipenuhi dengan hutan-hutan hijau namun dihiasi oleh lubang-lubang bekas galian timah. Hanya dalam waktu sekitar satu jam, pesawat yang kami tumpangi mendarat di Pulau Bangka dan untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di pulau yang bertetangga dekat dengan pulau kelahiran saya. Dari bandara, kami melanjutkan perjalanan menggunakan mobil menuju Koba. Di tempat inilah, perusahaan yang menjadi klien kami mengendalikan operasi tambang timah mereka. Perusahaan yang bernama Koba Tin itu 75% sahamnya dimiliki oleh sebuah perusahaan Australia.

Ketika mobil kami memasuki komplek perumahan dan melewati kawasan kantor, suasana tenang dan sepi. Rombongan kami diturunkan di guesthouse yang hanya berjarak sekitar sekitar 500 meter dari kantor. Tepat di seberang jalan dari guesthouse terdapat sebuah lapangan golf dengan pemandangan yang hijau. Kami memasuki guesthouse yang terletak di pinggir pantai. Di ruang tamu guesthouse tersebut terdapat sofa dan meja bilyar. Pada salah satu sudut terdapat sebuah bar lengkap dengan berbagai jenis minuman beralkohol. Di sebelah ruang tamu terdapat ruang makan yang tertata rapi. Dari ruang tamu, terdapat pintu akses ke sisi belakang bangunan yang langsung menghadap ke pantai dengan pasir putih.

Di halaman belakang yang menuju pantai ini terdapat bangku dan meja kayu. Tidak jauh dari sana, terdapat sebuah bangunan yang berisi perahu-perahu layar kecil (katamaran). Kamar kami terletak di lantai atas bangunan menghadap langsung ke arah matahari terbit. Sungguh seperti berada di sebuah resort. Alamak, semangat kerja saya langsung terbang terbawa oleh angin pantai…

Sayangnya tujuan kami bukan untuk berlibur. Setelah meletakkan tas kami, kami berempat kembali ke ruang tamu, kemudian berjalan kaki bersama menuju ruangan kantor yang sudah disediakan untuk kami. Rumah-rumah yang terletak di jalan tersebut dan bersebelahan dengan guesthouse ternyata adalah rumah tinggal para orang asing yang bekerja di sana. Beberapa wanita kulit putih yang sedang berada di halaman rumah menyapa dengan ramah. Mereka adalah para istri orang asing yang ikut dengan suami mereka.

Rupanya J sudah tidak asing dan mengenal cukup banyak orang di sana. Tiba di ruang kerja yang disediakan, J memperkenalkan kami dengan Mr D, seorang ekspatriat dari Australia dengan keahlian di bidang keuangan dan sistem. Kemudian kami diajak oleh J untuk berkenalan dengan tim keuangan dan beberapa bagian lain di mana kami akan berinteraksi dalam melakukan penugasan kami.

Pada hari pertama, kami diantar oleh staf senior klien mengunjungi lokasi penambangan, masuk ke dalam kapal keruk yang sedang beroperasi di danau dan melihat proses peleburan timah. Kami juga diajak ke lapangan terbuka di mana timah yang sudah diolah menjadi batang-batang timah dan ditumpuk rapi berkilau ditimpa sinar matahari. Dalam satu hari kami diajak belajar memahami siklus operasi perusahaan. Mudahkan?

Makan siang di guesthouse pada hari pertama menjadi pengalaman yang menarik dan berkesan. Ini juga menjadi momen yang selalu kami tunggu. Di ruang makan, kami dilayani layaknya di sebuah restoran mewah. Seorang manajer atau mungkin lebih tepat disebut butler mengatur stafnya untuk menyajikan makanan bagi tamu mulai dari makanan pembuka, utama dan makanan penutup. Langka bagi anak kos seperti saya bisa menikmati makan siang dengan menu lengkap, apalagi selalu ditutup dengan menu es krim. Setelah makan siang, sambil menunggu waktu makan siang berakhir kami duduk di bangku kayu yang terletak di tepi pantai. Semua diam membisu, terlena dalam lamunannya masing-masing dan terbius oleh suara debur ombak dan belaian angin pantai. Rasa kantuk yang mulai menyerang tiba-tiba terganggu oleh sirene yang menandakan waktu makan siang sudah usai dan waktunya untuk kembali bekerja…

Menjelang akhir hari kerja pertama, J mengajak kami pulang lebih awal untuk berbaur mendekatkan diri dengan klien kami dengan mengikuti acara rutin setiap Senin, yang disebut hash run. Tepat pukul 4 sore kami sudah berkumpul di depan lobi guesthouse lengkap dengan kostum olahraga. Salah seorang ekspatriat bernama Mr A yang merupakan kenalan dari J menjemput kami dengan mobil dan mengantar kami ke garis start (beberapa tahun kemudian J menikah dengan Mr A dan saya turut berbahagia melihat mereka berdua berjalan menuju ke pelaminan). Pada waktu yang ditentukan kami pun berlari dengan sekitar 30-40 peserta lain.

Rute lari kami bukan di jalan aspal tetapi memasuki hutan, kebun lada bahkan melewati sungai kecil. Supaya tidak tersesat, jauh sebelum acara dimulai panitia yang disebut Rabbit (entah kenapa mereka disebut sebagai kelinci) telah menebar potongan-potongan kertas dari mesin shredder pada pohon-pohon yang menjadi rute lari. Setiap minggu, Sang Kelinci yang ditunjuk harus berusaha mencari rute baru. Setelah berlari dan berjalan, saya akhirnya memasuki garis finish. Saya termasuk yang paling belakang, sementara para ekspatriat yang rata-rata memiliki fisik yang kuat sudah terlebih dulu memasuki garis finish dan tertawa bercanda dengan kaleng bir di tangan masing-masing. Setelah Sang Kelinci memastikan semua peserta telah tiba di garis finish, barulah kami meninggalkan lokasi. Di kemudian hari, saya baru tahu bahwa kegiatan hash run ini memang populer di lokasi-lokasi tambang sebagai salah satu kegiatan pekerja tambang untuk mengatasi kebosanan.

Kemewahan makan malam tidak kalah dengan makan siang… sebagai tambahan, kami bisa menikmati minuman beralkohol dari bar dengan hanya membayar biaya yang tidak lebih dari 20% harga pada restoran dan hotel berbintang di Jakarta. Hal ini karena perusahaan memiliki ijin untuk mengimpor minuman-minuman tersebut dan dijual tanpa menarik keuntungan kepada tamu guesthouse.

Sebelum menutup hari pertama kami, kami juga menyempatkan diri untuk bermain bilyar di ruang tamu sambil menonton acara televisi yang disiarkan oleh stasiun televisi berlangganan melalui layanan satelit.

Hari-hari berikut, kami mulai disibukkan oleh pekerjaan seperti mewawancarai staf klien dan membuat dokumentasi hasil wawancara. Saya mendapat bagian untuk melakukan review dan mendokumentasikan siklus aktiva tetap dan persediaan suku cadang. Hebatnya, sistem akuntansi yang dirancang oleh Mr D sudah merupakan sistem yang terintegrasi dan dapat diakses oleh setiap bagian untuk mencatat transaksi yang mereka lakukan. Uups, jadi kebablasan menulis tentang pekerjaan…

Tidak terasa sudah empat hari kami berada di sana dan Kamis malam pun tiba. Ada sesuatu yang beda pada malam itu dibanding malam biasa. Tidak ada kesibukan di ruang makan. Ternyata setiap Kamis malam, para ekspatriat berkumpul di tepi pantai di halaman belakang guesthouse untuk acara barbeque, sehingga semua kegiatan dapur pindah ke teras belakang. Karena kami adalah tamu guesthouse, kami diundang ke acara tersebut. Pada acara itu, berbeda dengan J dan rekan-rekan senior saya yang merasa nyaman bersosialisasi dengan para ekspatriat, saya merasa agak canggung karena bahasa Inggris saya yang masih kurang lancar, sehingga saya lebih memilih menikmati steak dan bolak balik mencomot kentang goreng. Kalau ada yang memperhatikan, pasti ketahuan saya yang makannya paling banyak…

TGIF! Hari Jumat menjadi hari kerja yang lebih santai dan berlalu dengan cepat. Dan akhirnya weekend yang kami tunggu-tunggu tiba juga. Saya baru akan merencanakan kegiatan untuk mengisi akhir pekan, ternyata J sudah memiliki rencana untuk kami. Menurut J, sebagian dari ekspatriat akan berlayar menggunakan katamaran menuju sebuah pulau pasir. Di sana mereka akan berenang, berjemur sambil menikmati bir dingin. Mr A akan senang sekali jika kami bersedia ikut.

Bersedia? Tentu saja! Kapan lagi bisa naik perahu layar gratis. Saya dan J ikut dengan Mr A dalam katamarannya, sementara senior-senior saya dalam katamaran yang lain. Sebelum memulai berlayar, saya dan J diberi briefing bagaimana kami sebagai harus menunduk jika layar berpindah posisi ditiup angin. Cuaca cerah hari itu cerah dengan langit biru. Hembusan angin mulai membawa katamaran kami ke tengah laut. Mr A sangat gesit mengendalikan katamaran tersebut. Namun di tengah perjalanan, Mr A menginformasikan bahwa angin pada hari yang cerah itu kurang kuat untuk membawa kami sampai ke pulau pasir.

Katamaran kami tidak bergerak lambat dimainkan oleh ombak yang berkejar-kejaran. Mr A dan J berbincang dengan akrab layaknya dua teman lama. Saya menjadi canggung berada di sana dan ingin rasanya meniup layar supaya katamaran kami segera berbalik arah ke pantai. Sambil menunggu angin, kami menikmati makanan yang kami bawa.

Untunglah tidak terlalu lama menunggu, angin kembali berhembus. Melihat kekuatan angin, Mr A memutuskan untuk membawa kami kembali ke pantai. Tiba di pantai berpasir putih, kami melanjutkan kegiatan kami dengan mencoba windsurfing. Boro-boro bisa surfing, berdiri di atas surfboard sambil memegang layar saja saya kehilangan keseimbangan dan tercebur ke laut berkali-kali. But, it was fun and a great experience…

Sabtu sore, mobil yang kami sewa mengantar kami ke Pangkal Pinang. Bosan juga setelah hampir seminggu menikmati masakan di guesthouse, jadi kami memilih menyambangi salah satu rumah makan seafood. Rumah Makan Asui yang menjadi tujuan kami merupakan salah satu rumah makan terpopuler di Pangkal Pinang dan selalu penuh dengan pengunjung. Untuk menghindari busy hours, kami rela berangkat dari sore. Perjalanan memakan waktu kurang dari 1 jam. Sampai di sana, belum terlihat banyak pengunjung.

Setelah membaca menu, kami berempat memesan berbagai jenis makanan dari penghuni samudra seperti ikan, cumi udang dan keluarganya dengan membabi buta. Pesanan kami mungkin lebih cocok untuk porsi delapan orang dewasa normal (tapi bukan berarti kita ngga normal ya, hanya lapar atau rakus. Beda tipis). Ah, untunglah saat itu saya belum kenal dengan yang namanya kolesterol.

Dengan perut kenyang, kami diajak oleh sopir untuk berkeliling kota menggunakan mobil (harusnya setelah makan kenyang tu jalan kaki). Pasar di tengah kota mulai ramai dengan penghuni kota yang menikmati malam minggu dan mencari hiburan setelah bekerja seminggu penuh. Puas mengelilingi kota yang tidak terlalu luas tersebut, salah satu rekan senior saya mengajak kita untuk mencoba kuliner lain yaitu empek-empek yang terletak di salah satu sudut persimpangan jalan tepat di tengah kota. Sayangnya tidak ada label nama untuk tempat tersebut karena penjualnya menggunakan gerobak besar. Ternyata setelah makan malam besar, kami masih punya laci lain di dalam perut untuk diisi dengan empek-empek. Sang Pencipta memang luar biasa!

Dengan hati senang dan perut kenyang, kami meninggalkan Pangkal Pinang. Dalam perjalanan pulang kami melihat durian-durian yang dijual di pinggir jalan. Dalam diskusi yang amat sangat singkat, kami memutuskan untuk berhenti dan menutup petualangan kuliner kami dengan durian Bangka. (Astaga, ini pola makan auditor atau pekerja kasar…)
Hari Minggu kami lewatkan dengan bersantai di guesthouse dan teras yang menghadap ke pantai (ini yang namanya the art of doing nothing) sambil menanti hari-hari kerja yang akan datang.

Pada minggu kedua tim kami bertambah dengan seorang manajer ekspatriat yang baru saja ditugaskan oleh kantor afiliasi kami di Australia untuk memastikan standar pelayanan kantor akuntan publik tempat kami bekerja. Dia akan melakukan review atas apa yang kami kerjakan (tentunya tidak termasuk acara hash run, barbeque, sailing dan makan malam gila-gilaan) untuk memastikan penugasan kami sesuai dengan standar international kantor afiliasi kami. Kelak, Mr M ini akan menjadi salah satu mentor saya yang banyak membantu saya dalam karir. Minggu ini berlalu dengan cepat dan setelah memastikan penugasan kami telah selesai, kami meninggalkan Koba dan Pulau Bangka dan kembali ke Jakarta.

Dalam dua tahun berikut setelah kunjungan yang pertama, saya berkali-kali mendapat penugasan ke Koba Tin. Klien ini selalu menjadi klien yang diperbincangkan (istilah sekarang trending topic). Beberapa tahun kemudian, kepemilikan saham berpindah dari perusahaan Australia ke perusahaan Malaysia. Tentunya ini membawa perubahan besar pada operasi perusahaan tersebut dan dikelola dengan gaya yang berbeda. Kabar terakhir, pada tahun 2013 kontrak Koba Tin tidak diperpanjang oleh pemerintah kita dan bekas area tambangnya diambil alih oleh PT Timah.

Sekarang, semua tinggal kenangan… Pengalaman yang saya alami mungkin tidak bisa dialami oleh teman-teman. Tetapi pantai yang indah masih ada di sana, demikian juga dengan masakan seafood, empek-empek dan durian.

By: Kelana


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 pemikiran di “KELANA SERIES: Once Upon a Time in Koba

  • Anton S.

    Kebetulan sy pernah kerja di salah satu perusahaan multi, dan pernah ngelakonin aktivitas Hash Run, sejak saat itu walau sudah tidak kerja disana, sy jadi hobby lari πŸ™‚
    Ikut gabung di Indorun aja Bung. Atau jangan2 malah salah satu membernya ya. Hehehe
    Anyway nice posting!

    • Kelana

      Terima kasih, Anton. Hash run saya yang pertama yang saya ceritakan pada tulisan di atas itu tahun 1996. Walaupun saya sangat menikmati pengalaman hash run yang berkesan, saya tidak terus jadi hobi lari. Baru sejak 4 tahun terakhir saya mulai tekun berlari dan sejak tahun lalu, saya mulai mengikuti marathon. Sangat mungkin kita pernah bertemu dalam event lari πŸ™‚

    • Kelana

      Halo Diana, ini cerita nyata… mudah-mudahan tidak membuat iri tetapi menjadi inspirasi supaya Diana bisa melakukan hal-hal yang menjadi impian Diana. Dan jangan penasaran karena Kelana hanya seorang yang sangat biasa seperti juga orang-orang yang ada di sekitar Diana πŸ™‚

  • Cut andhara

    Bang Kelana, makin memantapkan cita2 saya selepas SMU jd akuntan, karena ternyata jg bs jalan2, ga melulu di balik meja. Thank inspirasinya, jd semangat! πŸ™‚

    • Kelana

      Halo Cut Andhara, saya ikut doakan supaya cita-citanya bisa terwujud tapi jangan tergoda jadi akuntan hanya karena bisa jalan-jalan ya. Memilih profesi harus sesuatu yang membuat kita senang menekuninya. Banyak profesi lain juga yang memberi kesempatan untuk jalan-jalan. Semoga tulisan-tulisan saya nanti bisa semakin memberi inspirasi.

  • Dimas Pras

    Ceritanya panjang, namun keinginan utk membaca cerita berkualitas terpenuhi. Sy benar2 terhanyut dgn cerita Kelana.
    Love Indonesia more πŸ™‚

    • Kelana

      Halo Dimas, terima kasih. Sepertinya saya keasyikan menulis sehingga menjadi tulisan yang panjang. Saya sudah melihat banyak tempat dan sama seperti Dimas cinta saya semakin besar terhadap negeri kita. Mari kita doakan supaya negeri kita semakin maju dan dikelola dengan baik.

    • Kelana

      Sherano, maksudnya rute ke Koba? Untuk menuju Koba, banyak penerbangan langsung dari Jakarta menuju Pangkal Pinang. Bisa coba cek di situs-situs yang menawarkan tiket perjalanan atau langsung ke situs airline yang melayani pelayanan lokal.