Catatan seorang Liverpudlians 2


Mendapatkan kesempatan berkunjung ke Liverpool FC atas undangan Garuda Indonesia yang telah menjadi partner klub top Inggris itu. Udara dingin kota pelabuhan itu menyambut kedatangan kami.

Bersama beberapa awak media lain, kami bertolak menuju Liverpool melalui Abu Dhabi dan turun di Bandara Internasional Manchester. Perjalanan udara dari Jakarta ini memakan waktu sekitar 17 jam.

Tiba di Manchester sekitar pukur 07.30 waktu setempat, rombongan bergegas menuju kota Liverpool dengan menggunakan minibus sewaan. Rute melalui jalan darat ini cuma menghabiskan waktu satu jam.

Rasa penat setelah menempuh perjalanan jauh seperti langsung hilang. Setelah menaruh barang-barang di hotel, kami langsung melangkahkan kaki untuk mengitari Liverpool City Center yang letaknya memang tak jauh dari Hilton Hotel kami dan Garuda menginap.

Pusat berbelanjaan dengan segala macam jenis toko berada di sana dan memanjakan mata… dan menguras isi kantong! Setelah puas mengitari pusat kota, kami pun langsung bertolak menuju stadion yang sangat terkenal itu: Anfield.
Sebagai “penjajakan”, kami “cukup” mengunjungi museum, memutari toko penjualan merchandise atau sekadar berfoto.
Setelah memutari Anfield, kami segera beranjak mengunjungi salah satu tempat di Liverpool yang wajib dikunjungi siapapun: Museum The Beatles, tempat yang menyuguhkan segala memorabilia dan cerita perjalanan kuartet John Lennon, Paul McCartney, George Harisson dan Ringo Star. Biaya masuk museum ini 12,65 poundsterling atau sekitar Rp 180 ribu rupiah.

Jika Anda penggila Beatles kurang rasanya jika tak mengunjungi tempat ini sekaligus membeli segala pernak-pernik yang berhubungan dengan mereka. Tak hanya dua tempat terkenal itu, beberapa tempat menarik seperti Liverpool Cathedral, Goodison Park, Echo Arena atau Albert Dock, bisa dijadikan tujuan Anda saat berwisata di Liverpool.

Pusat berbelanjaan dengan segala macam jenis toko berada di sana dan memanjakan mata… dan menguras isi kantong! Setelah puas mengitari pusat kota, kami pun langsung bertolak menuju stadion yang sangat terkenal itu: Anfield.
Sebagai “penjajakan”, kami “cukup” mengunjungi museum, memutari toko penjualan merchandise atau sekadar berfoto.
Setelah memutari Anfield, kami segera beranjak mengunjungi salah satu tempat di Liverpool yang wajib dikunjungi siapapun: Museum The Beatles, tempat yang menyuguhkan segala memorabilia dan cerita perjalanan kuartet John Lennon, Paul McCartney, George Harisson dan Ringo Star.

Jika Anda penggila Beatles kurang rasanya jika tak mengunjungi tempat ini sekaligus membeli segala pernak-pernik yang berhubungan dengan mereka. Tak hanya dua tempat terkenal itu, beberapa tempat menarik seperti Liverpool Cathedral, Goodison Park, Echo Arena atau Albert Dock, bisa dijadikan tujuan Anda saat berwisata di Liverpool.
Liverpool memang bukan kota sibuk seperti London. Jika ingin menikmati ketenangan sebuah kota besar, tempat ini cocok. Kehidupan di kota ini umumnya berlangsung dari pagi hanya sampai sekitar jam 8 malam di saat weekdays, bahkan sudah sepi pukul 18.00 ketika weekend

Di akhir minggu, kehidupan cuma berlanjut di stadion. Anfield dan Goodison Park – markas klub Everton yang juga ada di kota ini — bisa menjadi aktivitas sore satu-satunya di sini. Dan malam ini kami akan ada di Anfield, menyaksikan langsung big match “Si Merah” melawan Arsenal.

Saya akhirnya bisa menyaksikan langsung yang namanya suporter Liverpool di stadion kebesaran mereka, Anfield. Mengagumkan, tapi ketika kalah tetap saja mereka lesu.

Anfield sudah begitu hiruk-pikuk dua jam sebelum kickoff menjamu Arsenal, Minggu malam kemarin. beberapa rekan media massa dari Indonesia berkesempatan menyambangi salah satu stadion paling terkenal di dunia itu atas undangan PT Garuda Indonesia selaku global partner Liverpool FC.

Saya tahu, begitu banyak testimoni tentang Liverpudlians dan Anfield. Yang terakhir saya baca adalah dari Carlo Ancelotti. “Dalam opini saya, suporter Liverpool adalah yang terbaik di dunia. Ketika mereka mulai menyanyikan lagu dukungan, rambut anda akan berdiri.”

Well, tidak cuma rambut saya yang berdiri. Bulu kuduk saya juga seakan-akan jumpalitan ketika saya memasuki stadion yang sudah “merah” dan penuh riuh rendah itu. Baru situ saja saya sudah “gemetaran”. Oya, maaf jika saya norak. Tapi kata orang, kesempatan langka tak boleh disia-siakan.

Kebetulan, saya fans berat klub kota kelahiran The Beatles ini. Jadi, ini sungguh sebuah momen dan pengalaman yang tak mungkin saya sia-siakan. Dan saya petang itu ada di situ, di Anfield, untuk menyaksikan langsung sebuah big match.

Maka tak perlu susah-susah membayangkan gairah suporter Liverpool menjelang kickoff. Dengan segala atribut klub kesayangan, mereka, laki-laki-perempuan, orangtua-pemuda-anak-anak, bernyanyi-nyanyi, berteriak-teriak. Ini adalah sebuah kesenangan. Ah, bukan. Ini lebih dari sekadar itu.

Begitu pertandingan dimulai, oke, secara subyektif, sebagai penggemar Liverpool tentu saja, saya percaya bahwa suporter tim ini sungguh-sungguh luar biasa. Dan ya, saya pun akhirnya mendengarkan lagu “kebangsaan” itu dilantunkan tak henti-hentinya oleh mereka: You’ll Never Walk Alone. Jujur, pembaca, saya sempat tak bisa berkata-kata, hehehe.

Suporter begitu ekspresif. Setiap kali skuad Liverpool menyerbu ke wilayah pertahanan Arsenal, mereka berdiri, menegang. Ketika pemain melakukan tekel bersih, mereka bertepuk tangan. Ketika pemain membuang peluang di kotak penalti, mereka memegang kepala, berseru “ough”. Dan ketika Arsenal mengoyak jala Liverpool…mereka bungkam.

Dan mereka terdiam ketika di pertengahan babak kedua Arsenal kembali menjebol gawang. Anfield terhenyak. Saya melihat raut-raut muka sedih dan kebingungan. Oh tidak, tim ini dilanda kekalahan.

Lalu “kesoktahuan” saya muncul. Sebagai seorang fans Liverpool, dan berada di tengah-tengahan puluhan ribu suporter merah yang sedang dilanda kegalauan hebat di rumahnya sendiri ini, saya jadi ingin ikut memaki-maki sendiri.
Di awal kiprahnya di Liverpool, Pelatih sudah menemui kerikil-kerikil tajam yang menghalangi misinya merajut cerita indah di Merseyside, dari banyaknya pemain senior yang dilepas, plus keengganan Fenway Sports Group (FSG) dalam menginvestasikan dana besar untuk membeli pemain bintang.

Dari penilaian “sok tahu” saya, kebiasaan Liverpool bermain tanpa pola atau skema baku seperti musim lalu masihlah terlihat. The Reds saat itu kalah 0-2.

Tidak bisa tidak, hanya kekecewaaan yang terlihat di Anfield setelah pertandingan selesai. Sebagian suporter malah ada yang meninggalkan stadion sebelum pertandingan usai, sesuatu yang sesungguhnya jarang terlihat kala Liverpool bermain di kandang sendiri.

Kelesuan itu terlihat dari jarangnya para Liverpudlian meneriakkan chant atau yel-yel untuk mendukung. Bahkan suporter Arsenal yang hadir di stadion sempat meneriakkan “Where is your famous atmosfer? beberapa kali. Aneh, saya merasa ikut-ikutan panas mendengarnya, hehehe.

Kelesuan pun terlihat di wajah para suporter yang kebanyakan bergerumul di luar stadion usai pertandingan. Tatapan kosong serta celetukan-celetukan dan gerutuan seperti menggambarkan ketidakpercayaan mereka atas performa timnya saat ini. Langkah kaki yang berat para suporter saat berjalan seolah mentransformasi apa yang terjadi di atas lapangan pertandingan. Beberapa orang tampak kurang senang ketika saya membidikkan kamera saya ke arah mereka.
“Mereka sepertinya tidak tahu bagaimana mencetak gol. Bahkan untuk mengumpan saja mereka kesulitan. Benar-benar menyebalkan hari ini” keluh seorang fans bernama Hugh yang dengan wajah ketus mengucapkan kata-kata itu.

Tapi biarlah, kelesuan itu urusan mereka. Itu klub mereka dan hidup mereka ada di sana. Saya merasa cuma tamu di sini, walaupun menyimpan banyak replika jersey “Si Merah” di lemari baju saya di Jakarta. Tapi pengalaman merasakan Anfield dan segala atmosfernya sudah saya dapatkan, dan takkan pernah terlupakan.

Saya seperti berhalusinasi, sebelum memejamkan mata di malam selarut itu, saya masih terngiang-ngiang pada lagu yang tadi menggemakan Anfield, yang jaraknya cuma 5 kilometer dari hotel tempat saya dan rombongan menginap: You’ll Never Walk Alone.

Sampai jumpa.
Resha Pratama


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 pemikiran di “Catatan seorang Liverpudlians