HALLOWEEN-HONEYMOON @GILI TRAWANGAN 10


Dibandingkan teman-teman, saya termasuk terlambat pergi ke Gili Trawangan, Lombok. Kesempatan baru datang 4 Oktober lalu, ketika saya dan istri, Rita ambil cuti bersama. Kebetulan Rita ultah di tanggal 5 nya.

Dari Pelabuhan Bangsal di Lombok kami naik fast boat Rp.85 ribu per orang. Perjalanan 45 menit ke Gili Trawangan.

Gili Meno dan Gili Air hanya kami lewati. Kata orang, kalau butuh ketenangan, pergilah ke Gili Meno, kalau mau yang lebih eksotis, Gili Air pilihannya.

Gili Trawangan adalah yang terbesar dan teramai. Salut juga melihat tidak ada kendaraan bermotor beroperasi di ketiga Gili. Awannya jadi biru bebas polusi. Sungguh tempat ini menawarkan sebaik-baiknya udara bersih.

Menjelajahi Gili satu ini bisa dilakukan dengan jalan kaki atau sewa sepeda. Atau kalau mau nggak capek, bisa naik angkutan khas “Cidomo” (dokar-berban mobil), yang jauh dekat dibanderol 100 ribu perak. Mahal bagi saya.

Kami jalan kaki ke hotel. 25 menit dari pelabuhan. Hati-hati ya saat berjalan, karena jalannya nggak terlalu lebar dan ramai, dan harus memperhatikan cidomo atau sepeda yang juga berbagi jalan.

Resto. kafe, motel banyak ditemui dalam jarak tidak jauh. Saya suka ornamen payung gantung merah putih yang kami temui di jalan utama. Sepanjang jalan terdapat deretan kios,hotel, losmen, hingga sejumlah resto dan tentunya pemandangan pantai nan indah.

Kami puas dengan hotel yang dipilih online. Lingkungannya asri, kamarnya bersih, krunya santun. Tarifnya Rp. 400 ribu semalam. The Best part-nya, di seberang hotel langsung ketemu pantai. 😉

Usai mandi, kami langsung ke pantai. Langit sudah gelap, tapi deru ombaknya seperti suara yang stereo di telinga. Selesai dinner, kami berbagi cerita di tepi pantai hingga melewati tengah malam yang artinya Tuhan telah antar Rita masuk ke usianya yang baru.

Jam 5 pagi kami sudah standby di pantai, menyaksikan sunrise yang elok. Kami berinisiatif Sewa sepeda seharga Rp.50ribu per hari. Si “Birthday girl” ingin sekali berenang saat itu, dan sepeda pun meluncur meluluskan permintaannya.

Waktu berjalan cepat. Tahu-tahu udah menjelang sunset aja. Untuk menikmati sunset, kami harus pindah ke pantai yang ada di belakang kami. Artinya harus potong jalan membelah pulau.Rutenya melalui gang-gang kecil di sisi jalan hotel. Dengan bersepeda sekitar 25 menit, tiba lah kami di sisi pantai belakang, lokasi sunset.

Belom banyak kafe di sini, tapi ada 1 kafe baru yang kami pilih. Sunset-nya yahud, kami bersantai menikmati moment dalam kemasan romantis yang bikin lupa, kalau waktu sudah bergeser ke jam 8 malam.

Balik ke hotel, kami harus melalui rute yang sama, kali ini dalam situasi yang “spooky” karena gelap. Belum lagi ada pepohonan tinggi dan kesunyian malam bikin hati berdebar.

Malang tak bisa ditolak. Baru masuk hutan, rantai sepeda Rita terlepas. Tak bisa dipasang lagi. Di kesunyian malam, dengan latar tempat yang tidak familiar, ditambah lagi dengan suasana yang mencekam, lengkap sudah saat itu diberi judul sebagai malam keramat.

Panik kami makin menjadi, saat dari kejauhan terdengar suara lonceng yang makin lama makin mendekat ke tempat kami. Ooh Crap!

Tapi tunggu, ternyata itu loncengb dari cidomo yang menghampiri.

Sang kusir ternyata sedang mengantar tamu, tapi dia berjanji akan mengabari rekannya untuk menjemput kami setelah ia mengabari melalui. Handy talky yang menjadi alat komunikasi antar kusir cidomo. Cukup efektif karena area yang dicover juga nggak terlalu luas. Kami selamat.

Menunggu 20 menit di tempat kegelapan di tempat asing itu bak menunggu puluhan jam. Tidak heran saat bunyi cidomo di kejauhan mulai terdengar, kami merasa seperti sebuah alunan yang terdengar merdu. Puji Tuhan bantuan datang. Kami dan dua sepeda berdesakan di dalam cidomo. Nggak apa-apa, yang penting bisa balik dengan selamat. Hehehe.

Saya teringat, waktu tahu tarif Cidomo Rp.100ribu jauh dekat, dan saya bilang nggak akan naik cidomo karena kemahalan. Tapi malam itu, cidomo menyelamatkan kami.
Kualat, batin saya.

Trip kami sukses. Ultah Rita spesial, Gili Trawangan-nya keren, “horror”nya dapet. Next kami akan icip-icip Gili Meno dan Gili Air juga. Doakan.

By:
Ravinoldy Boer


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 pemikiran di “HALLOWEEN-HONEYMOON @GILI TRAWANGAN