Kelana Series: Udang beku, tombak kayu dan tempat ibadah di Indonesia timur 14


Setelah menyelesaikan sekolah saya di kampung halaman tercinta, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan saya di salah satu universitas swasta di Jakarta (catatan: ibukota negara kita, dengan segala masalahnya, sebenarnya merupakan tempat dengan sejarah yang panjang dan penuh dengan daya tarik dari sisi travel.

Di lain kesempatan saya akan menulis tentang Jakarta). Pilihan saya jatuh pada jurusan ekonomi akuntansi. Sebuah pilihan dengan pertimbangan sederhana, cepat selesai (dibandingkan dengan arsitektur atau kedokteran) dan segera menghasilkan uang sehingga tidak menjadi beban orang tua. Gelar sarjana ekonomi yang saya dapatkan dalam waktu empat tahun kemudian mengantar saya mengawali karir sebagai seorang auditor pada salah satu kantor akuntan besar di Indonesia.

Saya sempat berpikir bahwa mimpi saya untuk melihat tempat-tempat indah di dunia akan tertunda untuk waktu yang lama karena profesi saya terkenal dengan jam kerja yang panjang. Ah, seandainya saja saya dulu memilih mewujudkan cita-cita masa kecil menjadi seorang pilot, pasti akan lebih mudah untuk bisa mewujudkan mimpi saya berkeliling dunia…

Ternyata setelah beberapa bulan menjalani pekerjaan saya dari kantor klien yang satu ke kantor klien yang lain di Jakarta, datang juga kesempatan bagi saya untuk melihat tempat lain di Indonesia. Saya ditugaskan untuk mengamati proses perhitungan persediaan barang akhir tahun di Makassar dan Sorong. Perjalanan yang saya lakukan sejatinya adalah perjalanan dinas, bukan jalan-jalan. But, look at the bright side…tiket dan hotel gratis. Yeay!

Stock opname atau stock take adalah prosedur yang biasa dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk menghitung persediaan barang, idealnya dilakukan tepat pada akhir tahun. Bisa beberapa hari sebelum atau sesudah akhir tahun, kemudian arus keluar masuk barang direkonsiliasi ke posisi akhir tahun (loh, ini nulis tentang travel atau kuliah akuntansi seh?). Tugas auditor adalah mengamati dan memastikan proses tersebut berjalan sesuai prosedur Bagi yang menjalani profesi sebagai auditor pemula, tugas akhir tahun ini adalah sebuah bonus karena bisa menyambangi lokasi-lokasi yang jauh di luar Jakarta. Beruntunglah saya mendapat kesempatan pergi ke Indonesia bagian timur… untuk mengikuti perhitungan persediaan ikan dan udang beku!

Perjalanan menuju Indonesia bagian timur ini, yang direncanakan akan dilakukan empat hari setelah perayaan tahun baru, diatur dalam satu perjalanan karena kedua gudang yang terletak di Makassar dan Sorong dimiliki oleh perusahaan yang sama. Pada saat tiket dan hotel sudah dipesan dua minggu menjelang akhir tahun, saya merasa waktu berjalan dengan sangat lamban. Hari keberangkatan tidak kunjung tiba.

Seminggu menjelang akhir tahun, di tengah ketidaksabaran saya menunggu hari keberangkatan, saya diberi tugas yang membuat saya gelisah. Tugas ini mirip dengan apa yang akan saya lakukan di Makassar dan Sorong, yaitu mengamati perhitungan persediaan, tetapi dilakukan tepat pada malam tahun baru dan tanpa pemberitahuan kepada sebuah outlet Wendy’s di Plaza Indonesia yang dipilih secara acak. Singkat cerita, pada saat saya tiba di outlet dan menyerahkan surat pengantar dari kantor pusat Wendy’s, saya sempat menjadi sasaran kemarahan manager dan staf yang bertugas karena harapan mereka untuk merayakan tahun baru terganggu oleh kehadiran saya. Untunglah, hal itu tidak berlarut karena mereka mengerti saya hanya melaksanakan pekerjaan saya. Ternyata tidak mudah menghitung roti, daging dan menimbang tangki-tangki berisi minuman ringan. Tugas yang dimulai pada pukul 10 malam setelah outlet ditutup baru selesai sekitar pukul 12 malam. Pada saat saya keluar dari Plaza Indonesia, Bundaran HI sudah penuh dengan manusia. Saya terpaksa berjalan kaki sampai Semanggi untuk mendapatkan taksi.

Beberapa hari setelah tahun baru yang berkesan, saya dengan ditemani seorang senior berangkat menuju Makassar. Tiba di Makassar, kami dijemput dan diajak makan siang di sebuah restoran seafood terkenal oleh salah satu karyawan senior dari perusahaan, kemudian diantar ke gudang untuk mengamati proses perhitungan persediaan suku cadang kapal penangkap ikan. Setelah menyelesaikan pekerjaan, kami diajak makan malam di restoran lain yang juga menyajikan masakan seafood. Kemudian, kami kami diajak berkeliling kota dan menikmati suasana malam di Pantai Losari sebelum diantar ke hotel untuk beristirahat.

Pada hari kedua, tugas kami lebih berat karena kami harus mengamati perhitungan persediaan ikan dan udang yang sudah dikemas dalam kardus dan disimpan dalam cold storage. Dengan menggunakan jaket dan sarung tangan yang agak berbau amis, saya dan senior saya membuat dokumentasi sambil berlari-lari kecil di dalam cold storage yang bersuhu dingin menusuk tulang. Sesekali kami keluar dari ruangan tersebut karena tidak tahan. Pada saat jam makan siang, pekerjaan kami sudah selesai. Karena sudah lebih akrab, kami mulai berani memberi usul supaya diajak makan siang ke Sop Konro dan Coto Makassar (Baru dua hari aja udah mulai ga tau diri! Rugi dong jauh-jauh ke Makassar koq hanya makan seafood). Ternyata klien malah senang dengan usul kami karena dia sendiri kehabisan ide dan awalnya segan mengajak kami makan Sop Konro dan Coto Makassar, yang terletak di warung (ngga tau aja dia kalo kita anak kos yang sudah biasa makan dari warung ke warung). Walaupun ini cerita lama, saya yakin kedua jenis makanan ini masih merupakan makanan khas yang tidak boleh dilewatkan jika teman-teman berkunjung ke Makassar.

Kami menghabiskan siang hari kami dengan mengunjungi Fort Rotterdam, yang merupakan sebuah benteng bersejarah yang dibangun oleh Belanda (Sumpah, waktu itu saya sama sekali tidak tahu ada kota bernama Rotterdam). Menjelang sore, kami diantar untuk photo stop (Ini istilah keren sekarang. Dulu kayaknya cuma bilang mau berhenti foto) di Masjid Raya Makassar. Sebelum kembali diantar ke hotel untuk beristirahat.

Keesokan paginya, kami dijemput dari hotel dan diantar ke bandara dengan dibekali udang beku yang dikemas dalam kardus pipih dan diikat rapi sehingga mudah ditenteng seperti koper kecil. Klien kami berpesan supaya setibanya kami di Sorong, kemasan tersebut bisa dititip di cold storage yang ada di sana. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih, walaupun tidak sampai bercucuran airmata, tetapi terharu juga diperlakukan dengan begitu baik selama dua hari di sana.

Pesawat yang kami tumpangi terbang menuju Bandara Pattimura di Ambon. Selama perjalanan, pesawat banyak sekali mengalami guncangan sehingga sempat membuat saya kuatir. Syukurlah kami tiba dengan selamat di Ambon. Setelah itu, penerbangan dilanjutkan lagi menuju bandara yang terletak di sebuah pulau kecil bernama Jeffman. Landas pacu bandara tersebut membentang dari ujung pulau yang satu ke ujung yang lain. Dibutuhkan pilot yang berpengalaman untuk mendarat sempurna di pulau tersebut. (Untunglah setelah kembali ke Jakarta, saya baru diberitahu oleh seorang teman yang mendengar saya mengunjungi Sorong, bahwa dua tahun sebelumnya terjadi kecelakaan pesawat di bandara tersebut yang menewaskan hampir seluruh penumpang, sehingga tidak membuat saya gelisah di dalam pesawat selama penerbangan ke sana).

Dari bandara, kami masih harus melanjutkan perjalanan menggunakan kapal motor selama kurang lebih setengah jam. Praktis pada saat tiba di Sorong hari sudah mulai gelap. Kami diajak untuk makan malam setelah mampir untuk menitipkan kemasan udang beku yang kami bawa dari Makassar. Kemudian kami diantar menuju hotel untuk beristirahat. Saya sangat terkesan dengan hotel kami yang tidak terlalu mewah tetapi didekorasi dengan berbagai karya seni asli Papua. Dinding-dinding dihiasi dengan senjata-senjata seperti panah dan tombak kayu yang ditata dengan rapi. Sebelum menuju kamar, klien kami setengah bercanda dan berbisik, supaya kami tidak membukakan pintu jika ada yang mengetuk. Walaupun hotel kami termasuk hotel yang lumayan bagus, menurut klien kami, terkadang masih ada wanita-wanita yang menawarkan jasa di malam hari. Dan, pada saat itu, Sorong memang menjadi salah satu tempat dengan penderita HIV/AIDS yang cukup tinggi.

Keesokan harinya kami dijemput oleh klien dan diantar menuju gudang. Pekerjaan yang kami lakukan sama dengan yang kami lakukan di Makassar. Masih terbayang jelas… ruang yang sangat dingin, jaket dan sarung bau amis, lari-lari di dalam ruang pendingin, keluar masuk ruangan karena jari mati rasa dan tidak bisa menulis… melakukan tugas ini selama dua kali dalam satu perjalanan menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Pada saat makan siang bersama di ruang makan yang terletak di kawasan gudang, kami memperkenalkan diri dan asal kami kepada beberapa karyawan yang bekerja di sana. Mendengar saya berasal dari Belitung, ibu yang bekerja sebagai resepsionis mengaku bahwa tetangganya juga berasal dari tempat yang sama dan sudah menetap di Sorong lebih dari sepuluh tahun. Sang Ibu mengajak saya untuk mengunjungi tetangganya itu setelah selesai melakukan pekerjaan kami. Menurut sang Ibu, tetangganya pasti akan senang mendapat tamu dari kampung halamannya karena mereka jarang pulang ke kampung. Apalagi mendengar berita dan cerita tentang Belitung tentu akan membantu mengobati rasa rindu akan kampung halaman. Saya menyambut ajakan tersebut dengan senang hati. Senior saya pun tidak keberatan untuk ikut, sekalian menuju ke tempat makan malam.

Sayangnya, acara kami pada siang hari yang seharusnya mengunjungi kapal penangkap ikan dan udang, terpaksa dibatalkan karena cuaca yang kurang mendukung dan ombak yang terlalu besar. Kekecewaan kami sedikit terobati ketika klien kami mengajak kami untuk mengelilingi kota Sorong. Tempat yang kami kunjungi pertama adalah Gereja Katedral Kristus Raja. Bangunan gereja tersebut cukup unik menyerupai bentuk kerucut atau tenda.

Setelah puas mengambil foto, kami diantar ke ibu resepsionis dan bersama-sama mengunjungi tetangga ibu yang ternyata membuka toko sembako. Tetangga sang Ibu terdiri dari suami-istri, anak-anaknya dan adik laki-laki dari sang suami yang belum menikah. Setelah saling memperkenalkan diri, ternyata keluarga tersebut masih mengenal keluarga besar orang tua saya. Mereka sangat ramah dan sang adik memaksa untuk mengajak kami makan malam bersama dengan ditemani klien kami. Akhirnya kami menerima tawaran tersebut. Sebelum makan malam, kami diajak untuk mengunjungi Pagoda Sapta Rana yang terletak di bukit untuk menikmati sunset.

Setelah itu baru dilanjutkan dengan makan malam. Setelah selesai makan malam, teman baru kami mempersilakan klien kami untuk pulang dan memaksa untuk mengantar kami menuju hotel. Saya berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada sang Ibu yang sudah mengatur pertemuan kami. Seolah belum ingin berpisah, kami diajak melihat pasar dan kegiatan penghuninya di waktu malam. Melewati sebuah toko, saya tertarik melihat tombak kayu yang mirip dengan hiasan di hotel. Setelah menimbang-nimbang, akhirnya saya putuskan untuk menanyakan harga. Saya sudah tidak ingat harganya sekarang. Tetapi sempat terjadi tawar menawar dengan pemilik toko yang mengaku berasal dari Padang (tumben, si bos ngga buka restoran Padang malah jualan souvenir).

Keesokan paginya, bagasi kami bertambah lagi dengan kemasan udang (jenis yang lebih besar) dari gudang Sorong. Tidak lupa kami mengucapkan terima kasih kami kepada klien yang mengantar kami menuju bandara.
Sungguh sebuah anugrah, paket-paket udang beku dan tombak yang panjangnya lebih tinggi dari saya itu berhasil tiba dengan selamat sampai tujuan, setelah melewati perjalanan panjang dari kota Sorong menyeberangi laut menuju bandara, transit di Makassar dan akhirnya mendarat di Jakarta.

Keindahan Masjid Raya di Makassar, Gereja Katedral Kristus Raja dan Pagoda Sapta Rana lagi-lagi membuktikan tingginya toleransi beragama di negeri tercinta ini….

By: Kelana


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 pemikiran di “Kelana Series: Udang beku, tombak kayu dan tempat ibadah di Indonesia timur

  • Boyke Elvano

    Ini cerita Bung kelana traveling pertama kali ya… memang kebanyakan 1st trip itu berawal dari tugas kantor, sama kayak saya. Bedanya Kelana sudah mengunjungi banyak negara pada akhirnya, kalo saya mentoknya ke Malaysia. Hehehehe.
    IMHO ceritanya punya flow bagus, sayang kurang mendalam pembahasan nya.
    Jangan kelamaan apdetnya Bung Kelana 🙂

    • Kelana

      Boyke, betul…ini salah satu trip awal saya. Terima kasih untuk masukannya, semoga nanti bisa saya perbaiki di tulisan-tulisan mendatang. Tulisan berikut sedang dikerjakan di sela-sela kesibukan tutup buku bulan Januari. Untung ngga dikasih deadline sama Andrei 🙂

  • Diana

    Jarang-jarang cerita artikel dari Indonesia timur, saya selalu tertarik membaca kabar dari timur, oneday saya harus kesana… menyaksikan sendiri penduduknya yang merayakan keragaman. 🙂

    • Kelana

      Diana, mungkin yang berkunjung ke Indonesia Timur belum sempat menuliskan ceritanya. Padahal banyak hal yang bisa diceritakan mengenai kekayaan dan keragaman di sana. Kalau nanti Diana sudah berkunjung ke sana, mari berbagi cerita supaya menjadi inspirasi teman-teman lain.

  • Sherano

    Saya pernah ke makassar dan sempat menikmati indahnya pulau di seberang kota makssar yang bernama kodingarengkeke. Juga pergi ke benteng bekas kerjaan gowa tallo yang terletak sekitar 30 menit dari kota makassar. Tapi, yang menarik adalah meski di daerah makassar dan sorong terkenal dengan orang-orang yang mudah emosi, tetapi mereka sejatinya manusia-manusia yang penuh kehangatan dan ramah. Sejujurnya, itu salah satu hal yang saya rindukan dari indonesia timur. Nice one, kelana!

    • Kelana

      Sherano, terima kasih. Mari ikut menulis dan berbagi cerita. Mungkin bisa jadi inspirasi bagi teman-teman lain untuk berkunjung ke Indonesia Timur.

    • Sherano

      Mas Bro, saya harus banyak belajar menulis sama bro kelana ini. Krn selama saya belajar berbisnis dan bersinggungan dgn akuntan, baru kali ini saya lihat akuntan yg lentur. Biasanya mereka itu kaku2 krn kebanyakan liat angka dan bikin buku besar. Hehehe. Siaaap, ajari sy nulis dl ya.

      • Kelana

        Sherano, terima kasih. Saya sendiri juga baru belajar menulis. Sama seperti konsep umum, untuk menjadi ahli kita perlu sering berlatih. Menulis di sini jadi bagian dari latihan saya. Mungkin Sherano bisa melakukan hal yang sama. Saya juga sering liat angka, makanya mencoba menulis supaya lebih banyak melihat kata. Mudah-mudahan jadi semakin lentur, bukan kaku 🙂

    • Kelana

      Lilik, bahkan pagoda tersebut merupakan salah satu pagoda terindah yang pernah saya kunjungi. Mesjid ada… gereja juga ada… Bukankah negara kita memang kaya dan beragam…

        • Kelana

          Lilik, tiket pesawat ke Indonesia Timur memang relatif mahal (bahkan dibanding tiket ke Singapore atau Kuala Lumpur). Tapi ada juga kesempatan untuk mendapatkan tiket murah jika sedang ada promo atau travel fair. Saya percaya jika rajin mencari informasi pasti ada cara menuju ke sana.