Secangkir Kopi dan Segelas Es Krim 2


Kopi itu masih mengepulkan asapnya, sesaat kuhirup aroma khas minuman yang mengandung kafein itu, menemani sebatang rokok yang baru kunyalakan. Kembali pikiran melayang tentang secangkir kopi dan segelas es krim, yang tak sengaja telah banyak memberi cerita dalam perjalanan hidup ini.

Sejarah kopi diawali dari cerita seorang penggembala kambing Abessynia yang menemukan tumbuhan kopi sewaktu ia menggembala sekitar 800SM, hingga menjadi minuman bergengsi para aristokrat di Eropa. Bahkan oleh Beethoven menghitung sebanyak 60 biji kopi untuk setiap cangkir kopi yang mau dinikmatinya.

Dalam perkembangannya, kopi mengalami perjalanan yang sangat panjang dari awal penemuannya. Bangsa Arab bahkan sempat menjadikan kopi sebagai minuman spesial, karena beberapa sufi dan pemuka agama menganggap khasiatnya mampu meningkatkan kualitas keagamaan mereka. Bahkan di Turki, seorang istri berhak meminta cerai bila sang suami tak mampu menyediakan kopi di rumahnya!

Namun sejak kopi tersebar di kedai–kedai masyarakat dan selalu dijadikan menu saat berkumpul, pemerintah Turki melarang minuman ini karena takut dengan efek negatif yang muncul dari seringnya masyarakat berkumpul di kedai minum. Bahkan pemerintah tak segan untuk membunuh masyarakat yang masih mengkonsumsi kopi.

Pada tahun 1435 pemerintah Turki Ottoman mengenalkan kopi ke konstatinopel dan sejak saat itu berkembang luas di daratan eropa. Karena lidah manusia yang berbeda-beda, maka penyebutannya-pun beragam. Di Perancis masyarakatnya menyebut cafe, orang inggris menggunakan kata coffee, Jerman menjulukinya kaffe, di Arab sendiri bernama quahwa, di Turki berkembang dengan nama kahveh. Sedangkan di Indonesia sendiri dikenal dengan sebutan kopi, berasal dari bahasa belanda, yaitu koffie. Orang–orang Belanda yang membawa biji minuman ini ke nusantara sekitar tahun 1646 dan ditanam di sebelah timur Jatinegara yang sekarang dikenal dengan nama Pondok Kopi.

Brazil kini menjadi salah satu pengekspor kopi terbesar di dunia. Dan selama perkembangannya, ada berbagai jenis kopi yang kita kenal. Seperti kopi hitam, espresso, latte, macchiato, capuccino, kopi tubruk, kopi luwak dan sebagainya. Di Indonesia sendiri kopi toraja, kopi luwak, kopi aceh, kopi lasem dan kopi tubruk memiliki citarasa yang khas dan digemari oleh seluruh kalangan masyarakat.
Di luar itu, kopi telah mengajarkan kita banyak hal di dunia ini. Terutama tentang sebuah kejujuran.

Percaya atau tidak, sebanyak apapun campuran dan pemanis yang dilarutkan, rasa khas dari kopi itu sendiri tidak hilang. Pahit! Dan itu adalah sebuah kejujuran yang dimiliki oleh minuman ini, hal yang sering dilupakan oleh manusia. Banyak pula yang didapat dari secangkir kopi. Entah itu persahabatan, bisnis ataupun ide brilian, bahkan sebuah cinta. Seorang teman bercerita, dulu ia bertemu dengan seorang wanita yang kini menjadi istrinya karena segelas kopi. Seandainya dulu kopi mereka tidak tertukar, mungkin istrinya sekarang adalah orang lain.

Tapi Tuhan memang selalu memiliki cara untuk menjadikan sesuatu. Seperti aku yang mengenalmu tanpa pernah direncanakan sebelumnya.
Di sebuah cafe di pinggir sungai South Bank, Brisbane Australia, yang sesaat sebelumnya kita lewati bersama. Kau dan aku bercerita tentang banyak hal, menikmati malam syahdu di bawah cahaya bintang–bintang, tentang masa lalu dan harapan yang akan datang hingga waktu beranjak pudar.

Tahukah engkau, saat ini aku selalu teringat masa itu. Di timur jauh kita bertemu, saling memahami dengan ditemani segelas es krim yang kita nikmati bersama.
Saat ini aku duduk di sebuah gerai es krim, sendiri dan hanya ditemani secangkir kopi. Kamu tahu kenapa aku memilih secangkir kopi? Mungkin sebagian alasannya sudah ku tulis diatas, tapi tak seperti kopi, saat ini aku tak peduli dengan sejarah es krim, karena bagiku sejarah es krim di mulai sejak aku mengenalmu.

By: Pemuda Bangun Pagi


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

2 pemikiran di “Secangkir Kopi dan Segelas Es Krim