Kelana Series: “Pulau itu dulu bernama Billiton” 10


Ini adalah tulisan saya yang pertama dan saya sempat bingung. Saya bukan seorang penulis, saya lebih banyak bermain dengan angka-angka.

Profesi saya sebagai seorang akuntan sebenarnya tidak banyak berhubungan dengan traveling, tetapi mengutip tagline dari website ini “Everyone deserves to travel”, saya akan berbagi cerita bagaimana seorang akuntan seperti saya bisa mendapatkan kesempatan untuk menjelajah tempat-tempat indah di negara kita dan pelosok negara lain. Tentunya, semua cerita tersebut tidak bisa saya tulis dalam kesempatan ini tetapi dalam tulisan-tulisan yang akan datang dan (semoga) menulis secara rutin.

Setelah membuat pertimbangan dari mana memulai cerita, akhirnya saya memutuskan membuat tulisan pertama saya tentang kampung halaman saya tercinta, yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu destinasi turis yang cukup populer. Hitung-hitung ikut berpartisipasi mempromosikan kampung halaman saya kepada teman-teman yang belum pernah berkunjung ke sana.

Saya dilahirkan di Belitung, yang menjadi terkenal setelah booming buku dan film Laskar Pelangi. Sayangnya saya tidak punya hubungan saudara dengan Andrea Hirata sehingga tidak kecipratan bakat menulisnya. Belitung juga menjadi terkenal karena dari sinilah Ahok berasal. Saya tidak mau komentar tentang Ahok karena takut dituduh kampanye. Padahal sekitar dua dekade lalu pada hari pertama saya kuliah di Jakarta (ketauan deh umur gue) dan memperkenalkan nama dan asal saya, tidak banyak dari teman sekelas saya yang tahu di mana letak Belitung.

Dengan waktu terbang sekitar 50 menit dari Jakarta (saya bisa menghabiskan waktu lebih lama untuk perjalanan dari kantor ke rumah di ibukota tercinta ini) dan frekuensi penerbangan yang cukup banyak dalam sehari membuat Belitung menjadi destinasi yang relatif mudah dijangkau. Apalagi di awal tahun ini, bandara di pulau tersebut sudah berganti status menjadi bandara internasional sehingga penerbangan langsung dari luar negeri akan segera dibuka.

Belitung dikelilingi oleh pantai-pantai yang cantik di seluruh penjuru seperti Tanjung Kelayang, Tanjung Tinggi, Burung Mandi dan masih banyak lagi. Belitung juga dibentengi oleh sederetan pulau –pulau kecil sepeti Pulau Lengkuas, yang terkenal dengan mercu suarnya.

Ketika saya masih kecil saya jarang mensyukuri dilahirkan dan tumbuh dewasa di pulau ini. Pesona Belitung lebih dari sekedar pantai. Mungkin banyak yang tidak tahu bahwa Belitung (yang dulunya dikenal dengan nama Billiton) merupakan bagian sejarah dan cikal bakal dari perusahaan tambang terbesar di dunia bernama BHP Billiton yang memperdagangkan sahamnya di bursa saham Inggris dan Australia. Konon, nama Belitung itu diambil dari cara orang lokal mengucapkan Billiton.

Belitung juga pernah merasakan masa pemerintahan raja-raja. Jika berkunjung ke Belitung, luangkan sedikit waktu untuk mengunjungi museum yang terletak di Tanjungpandan yang akan membawa kita ke masa lalu.
Salah satu warisan penting dari film Laskar Pelangi adalah replika Sekolah Muhammadiyah yang sekarang menjadi salah satu destinasi turis. Andrea Hirata juga mendirikan Museum Kata di kampung kelahirannya.Dalam beberapa tahun terakhir, juga diadakan Festival Laskar Pelangi yang semakin memperkaya Belitung sebagai tujuan wisata. Tidak bisa dipungkiri, kemajuan pariwisata Belitung sangat terbantu oleh karya-karya Andrea Hirata.

Belitung juga kaya akan kuliner. Sebagai sebuah destinasi kepulauan, masakan dengan bahan dasar ikan dan kawan-kawannya(seafood) merupakan salah satu makanan andalan yang tidak pernah mengecewakan. Salah satu sebabnya adalah bahan yang digunakan yang segar dan langsung didapatkan dari laut sekitar. Yang tidak boleh dilewatkan adalah Gangan, sejenis sup ikan dengan kuah berwarna kuning yang merupakan masakan khas Belitung. Salah satu sarapan masa kecil saya adalah nasi gemuk yang mirip dengan nasi uduk disajikan dengan lauk ikan dan disiram kuah dari belimbing. Untuk non-muslim, cukup banyak makanan yang khas, seperti bakmi, babi panggang, dan lain-lain (ah, menulis tentang makanan membuat saya jadi rindu dan kepengen pulang kampung, padahal jika diteruskan daftarnya masih panjang, jadi cukup ya sekilas tentang makanan).

Di tengah kota, sekarang berdiri Tugu Batu Satam. Batu Satam adalah sejenis batu berwarna hitam yang ditemukan di tempat-tempat galian timah atau kaolin. Batu ini memang tidak memiliki bentuk yang indah seperti berlian dan mungkin jika tergeletak di jalan raya pun, sebagian besar orang tidak akan menyadarinya. Namun sebagian orang percaya batu tersebut memiliki kekuatan mistis. Tidak banyak yang tahu atau ingat di tempat tugu tersebut berdiri dulu adalah sebuah gardu listrik yang dipagari dengan pagar besi. Di tempat tersebut, saya sering menghabiskan malam saya bersama teman-teman menikmati secangkir teh panas dengan tahu dan tempe goreng sambil menggoda teman-teman yang lewat. Tidak jarang tertangkap basah oleh guru yang lewat sehingga esok harinya dihukum di sekolah.

Warung kopi yang terdapat di pojok-pojok jalan merupakan sebuah kultur dari Belitung. Warung kopi di sana lebih dari sekedar tempat untuk menikmati kopi, karena disinilah tempat para penghuni pulau bersosialisasi dan bertukar berita, gosip dan cerita di pagi hari sebelum memulai aktivitas mereka.

Sebagai seorang pecinta lari (sejak tiga tahun terakhir), saya sudah berlari mengelilingi kota Tanjungpandan menyusuri jalan-jalan yang dulu saya lewati menggunakan sepeda motor. Jalan- jalan yang membawa kembali kenangan masa kecil dan remaja… dan melewati tempat-tempat di mana saya dan teman-teman berkumpul atau melakukan kenakalan :).

Masyarakat Belitung yang majemuk terdiri dari berbagai etnis dan menganut agama yang berbeda. Namun wujud toleransi yang tinggi tercermin dari keberadaan mesjid, gereja, vihara dan bahkan terakhir pura yang didirikan oleh para transmigran dari Bali yang sekarang menetap di Belitung. Masyarakat dengan etnis yang berbeda juga membaur dengan baik. Pada saat sekolah di sana, saya yang merupakan etnis minoritas, bergaul dengan akrab dengan teman-teman sekolah saya dan tidak pernah mendapat pelecehan berbau SARA.

Sebenarnya masih banyak hal yang bisa diceritakan mengenai Belitung. Namun, saya percaya setiap tempat yang kita kunjungi memberikan kesan dan pengalaman yang berbeda bagi setiap orang. Karena itu saya mengajak teman-teman yang belum pernah ke sana, untuk berkunjung dan mendapatkan pengalaman dan kisahnya sendiri dari jejak-jejak yang dilalui.

Dulu, saya tidak pernah merasakan berada di tempat yang indah (istilah kerennya take it for granted) karena menetap di sana. Padahal tidak jauh dari rumah, saya bisa menikmati keindahan warna matahari terbenam setiap hari (selama tidak hujan). Itu saja sudah merupakan suatu anugrah.

Keinginan saya lebih besar untuk melihat tempat-tempat indah di luar Belitung, namun karena keterbatasan ekonomi, saya hanya bisa mendengar cerita beberapa teman yang sudah merasakan pergi keluar negeri. Sampai dengan umur 20, saya hanya pernah menginjak Belitung dan Jakarta.

Sekarang, setelah mengunjungi banyak tempat di pelosok dunia, saya tidak pernah berhenti bersyukur dan merasa beruntung, saya dilahirkan dan tumbuh dewasa di Belitung.

suar

By: Kelana


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

10 pemikiran di “Kelana Series: “Pulau itu dulu bernama Billiton”