Bertemu itu kesempatan, bersama itu pilihan 3


Kawaguchiko 5th Station, Jepang.

Saya meninggalkan Kawaguchiko 5th Station, ketika matahari hampir tepat di atas kepala.

Tujuan saya kali ini adalah menuju Nagoya, Banyak alternatif menuju Nagoya, baik dengan Kereta Shinkansen ataupun dengan memakai Bis yang terpusat di Stasiun Kawaguchiko, saya memilih opsi terakhir. Itu pun saya harus merogoh kocek hampir setengah juta. Ough 🙁

Bis meluncur meninggalkan kota kecil. Senja yang pucat juga cuaca yang berangin membawa saya dalam lamunan panjang, menuju 4 jam ke depan untuk sampai tujuan.

Seminggu sebelum keberangkatan

Jakarta, kala bermandikan hujan, selalu membawa kenangan tersendiri bagi saya, dalam padat rayap lalu lintas di daerah segitiga emas. Busway jurusan Blok M-Kota tersendat lantaran Jalur khususnya di pakai semena-mena oleh pengguna jalan lain.

Saya membenarkan posisi duduk begitu seorang pemuda berbadan besar duduk disamping saya, hampir memakan separuh tempat duduk yang saya tempati.

Pemberhentian berikutnya, penumpang mulai membludak, menyesaki ruang kosong di antara tempat duduk yang berseberangan.

Saya berdiri mempersilahkan Ibu tua dengan baju basahnya untuk menempati tempat duduk saya, seiring dengan pemberitahuan halte berikutnya.

Hmm… Halte Karet.

Saya mengedarkan pandangan di halte berikut tersebut, lalu menoleh ke sisi seberang jalan, dibawah jembatan layang tempat banyak pengendara sepeda motor berteduh dari hujan yang makin menderas, sebentar lagi mungkin genangan air akan mencapai mata kaki.

“Naikkan saja celana Jeans mu sampai ke betis” Itu kata seorang perempuan beberapa bulan yang lalu, ketika saya dan dirinya berteduh di tempat yang sama, di bawah jembatan layang yang kini saya pandang, saat kami selesai menyantap otak-otak dari penjual bersepeda, di hampir tiap hari jumat menjelang week end, menyambut suka cita hari esok di malam minggu yang selalu spesial.

Hari Jumat, hari spesial kami, saat dimana kami memulai menyusun rencana-rencana untuk akhir pekan yang selalu berkesan dan penuh binar mengalahkan matahari pagi.

Saya melangkahkan kaki keluar Bus. Halte Karet bukanlah tujuan akhir saya, namun melihat penjual otak-otak bersepeda di bawah jembatan layang tersebut tengah mengipaskan dagangannya, membuat saya tiba-tiba kangen mencicipinya sekali lagi.

Saya melipat amplop putih persegi panjang dan menyimpannya di saku celana, lalu menyeberangi koridor jembatan busway, sambil menutupi kepala dengan jaket dari hujan yang mencurah dari plafon koridor busway yang retak dan pecah berlubang, bahkan beberapa sudah hilang entah kemana.

Menuruni jembatan penyeberangan, sekali lagi membawa nostalgia seorang perempuan yang berdiri menunggu di ujung jembatan dengan baju kantornya, tentu tak lupa dengan senyum manisnya yang membuat saya selalu bersedia meluangkan waktu untuk makan siang bersama, atau menjemputnya pulang kantor.

Kali ini memang tidak ada lagi seseorang itu yang menunggu di ujung sana. Yang masih setia menunggu, hanyalah penjual otak-otak bersepeda yang selalu mangkal di tempat yang sama.

Saya mengisyaratkan pada penjual tua yang saya taksir berumur 50 an itu untuk menyajikan saya jualannya, penjual tua itu memandang saya, masih dalam sorot mata ramahnya seperti dulu. Selepas memandang saya, ia mencari ke sekeliling, berharap menemukan seseorang.

“Sendiri saja?” Tanyanya

“Eh?” Saya mengedik kaget.

“Mana perempuanmu?” Tanyanya lagi.

Air hujan yang tempias di tiup angin, membasahi wajah saya yang terpukau di tempat. Tentu saja ini suatu hal yang jarang terjadi, sudah berbulan-bulan lalu saat saya masih bersamanya, si penjual ini masih ingat wajah saya. Padahal begitu banyak jua orang yang membeli dagangannya, apalagi saat-saat itu kami tidak begitu sering membeli jualannya, hanya terkadang di hari Jumat, hari spesial kami.

“Bukan karena ingatan saya yang kuat, tapi siapapun yang bertemu kalian saat itu, pasti akan mengingat kalian. Wanita manis berambut panjang dengan pakaian rapi kantornya, bersama dengan pria yang memperlakukannya seolah hanya tinggal satu wanita di dunia ini”

Saya tersenyum dengan wajah memerah, tidak perduli jika kalimat tadi adalah akal-akalan kebanyakan penjual untuk melariskan dagangannya.

“Kemana perempuanmu?”

“Kami sudah tidak bersama lagi”

“Eh?” Giliran penjual tua itu yang kaget.

Saya tersenyum pahit, seraya menerima bungkusan berisi otak-otak hangat bersambal kacang.

“Saya pikir kamu akan menjemput dia lagi”

Saya menggeleng pelan, lalu menatap si penjual yang tengah melirik arlojinya.

“Biasanya jam segini, ia sudah menyeberangi jembatan penyeberangan, mungkin tertahan di kantornya karena hujan”
Deg! Ada perasaan aneh tiba-tiba menjalar.

Saya ikut memandang di kejauhan gedung kantornya yang menjulang tinggi, memang jam-jam seperti inilah waktunya untuk ia pulang, saya sendiri baru sadar. Saya ikut mengedarkan pandangan mata diantara banyaknya orang-orang kantoran yang berseliweran.

Tidak ada dia.

Bau tembakau memenuhi indera penciuman, si penjual tua tadi kini malah mengangsurkan rokoknya, dengan sopan saya menolak halus. Melihat penolakan saya, si penjual tua malah terkekeh geli, saya sampai mengernyitkan kening memandangnya, apa yang salah?

Dulu sewaktu habis kamu makan otak-otak dengan perempuanmu itu, kamu selalu menahan keinginanmu untuk merokok kan? Wajah mu tidak bisa memperdaya perokok berat seperti saya, kamu terlihat menjaga imej di hadapan perempuanmu saat itu.

Saya tersenyum seraya mengegeleng takjub, tahu saja penjual tua ini.

“Dia sebenernya tahu, kalo kamu seorang perokok” ucap si penjual tua.

“Eh?” Saya kaget. Skor kini menjadi 2-1 untuk saling mengagetkan.

“Ba..bagaimana dia tahu?” Saya sampai tergagap menanyakannya.

Si penjual tua kembali terkekeh, lagi-lagi mengangsurkan rokok kreteknya, terpaksalah saya ambil sebatang dan menyalakannya, berharap si penjual tua itu kembali bercerita.

“Dia kini pelanggan tetap saya Bung”

Kali ini saya tidak mau kaget lagi. Hening, menanti isapan dalam-dalam rokoknya untuk lalu terus bercerita.

Menceritakan jika si perempuan yang kami maksud sepulang kantor sebelum menyeberangi jembatan. Ia pasti akan singah membeli dagangannya. Lalu mencari koran bekas untuk alas duduk di kursi plastik.

Hal yang mengaitkan mereka dahulu, hanyalah hal sepele namun cukup mengagetkan bagi saya. Ketika si perempuan bertanya, apakah tersiksa dan sulit ya? jika seseorang berhenti untuk merokok? Pasti gak enak ya, kalo nahan-nahan keinginan untuk gak ngerokok?

Saya menghela napas, bagai mengeluarkan beban berat yang tertanggung sembari tersenyum lalu menarik kursi plastik di samping penjual tua, duduk disana. Seperti mungkin si perempuan itu selalu lakukan menunggu antrean busway berkurang sesaknya.

“Mengapa kalian tidak bersama lagi? Sudah tidak cinta?

Saya menggeleng pelan, menghembuskan asap kretek yang terbang tertiup.

“Persis seperti dirinya, ketika saya menanyakan pertanyaan yang sama. Hanya bisa menggeleng” ucap penjual tua, sembari berdiri lalu memanaskan dagangannya”

Saya melihat sekeliling, tidak ada pembeli yang membeli dagangannya, untuk apa ia menyediakan porsi lain?

Seolah bisa membaca pikiran, penjual tua itu menjawab tanpa memperhatikan saya, masih sibuk mengocok botol sambal kacangnya.

Bergegas pandangan mata ini melempar jauh ke arah jalanan tempat gedung perkantoran, dan benar kata penjual tua itu, perempuan itu ada disana, menuruni undakan tangga kantornya, masih dengan sweater kuning favoritnya.

Dengan tergesa saya bersegera mengeluarkan selembar 50 ribu dari dompet kulit, lalu menyerahkan pada penjual tua, untuk membayar makanan saya dan juga yang akan di beli perempuan itu nanti, sisa uangnya, tentu saja saya akan dikutuk dewa-dewa jika saya menagihnya.

“Kamu tidak mau bertemu dia lagi?” Si penjual tua berhenti menuangkan sambal kacang ke dalam plastik.

Saya menoleh melihat kejauhan, hanya dalam hitungan kurang dari 3 menit perempuan itu pasti akan sampai disini, saya bergegas pergi menyeberangi jembatan penyeberangan, setelah membisikkan sesuatu pada penjual tua.

Diantara lalu lalang pekerja kantoran, dan hujan yang berganti gerimis.. saya memandang perempuan itu dari ketinggian jembatan penyeberangan, sembari mendamaikan hati. Semenjak empat bulan yang lalu saat kami masih bersama, hingga hari ini, perempuan itu tidak banyak berubah, masih seperti dulu.

Entah bagaimana hatinya kini?

Saya menyaksikan dari ketinggian bagaimana perempuan itu memulai pertemuan dengan si penjual tua dengan senyum, bahkan ia memberi hadiah sekotak nasi.

Begitu si penjual mengangsurkan bungkusan plastik dagangannya dan menolak pemberian uang dari si perempuan, ada waktu cukup lama bagi si penjual tua untuk menjelaskan sampai akhirnya si perempuan bereaksi.

Saya reflek membungkukkan badan, menyembunyikan diri, begitu si perempuan lalu mulai mengedarkan pandangan matanya di antara keramaian.

“Apa yang harus saya bilang nanti? Kalo si perempuan menanyakan siapa yang sudah membayar jajanannya?” Tanya si penjual beberapa saat yang lalu, ketika saya bersiap menaiki jembatan penyeberangan.

“Bilang saja…. sudah dibayar oleh seseorang yang menganggapnya istimewa.”

Pelan saya berjalan, lalu menyelinap di antara ramainya jembatan penyeberangan. Rambut saya sudah basah total, berkali-kali saya harus mengelap wajah dengan lengan berjaket, namun dengan sejumput senyum yang merekah, mengingat jawaban si penjual tua beberapa saat yang lalu.

“Hey Pak, kenapa anda bisa yakin dan tau kalau hari ini ia akan datang membeli jualan ini?” Saat itu saya bertanya dengan gugup, begitu menyaksikan si perempuan itu tiba-tiba keluar kantornya.

“Kalau hari-hari lain, saya tidak bisa tahu kapan dia datang, namun tiap hari ini, perempuan itu pasti akan datang kemari, walau entah jam berapa…. asal hari Jumat.”

“Hari spesial katanya.”

Saya menaiki Busway yang sudah tidak terlalu sesak, melanjutkan perjalanan menuju selatan Jakarta. Amplop putih yang saya simpan dibalik saku celana, untungnya tidak ikut basah.

Saya mengeluarkan kertas di dalamnya, Selembar tiket, yang baru saja dibeli. Di lembaran itu tercetak destinasi impian. Yang kali ini tidak lagi sekedar merealisasikan mimpi, namun juga menjadi alasan kuat sebagai tiket untuk mencoba melupakanmu dan tidak lagi menganggapmu istimewa.

-Andrei Budiman-


Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

3 pemikiran di “Bertemu itu kesempatan, bersama itu pilihan